low code erp vs no code erp

Membedah Low Code ERP dan No Code ERP: Mana yang Cocok untuk Bisnis Anda?

Bagi banyak perusahaan, keputusan memilih sistem ERP sering kali dianggap sebagai garis akhir dari proses panjang digitalisasi. Namun, setelah software ERP yang tepat ditentukan, muncul pertanyaan lanjutan yang tidak kalah krusial, bagaimana sistem tersebut akan dikembangkan dan disesuaikan dengan kebutuhan bisnis yang terus berubah.

Di sinilah konsep Low Code ERP dan No Code ERP mulai menjadi bahan diskusi serius di ruang rapat manajemen dan tim IT. Keduanya sama-sama menjanjikan kecepatan, fleksibilitas, dan pengurangan ketergantungan pada pengembangan kode tradisional. Namun, di balik kemiripan tersebut, terdapat perbedaan mendasar yang dapat berdampak langsung pada skalabilitas sistem, kontrol teknis, hingga risiko jangka panjang.

Bagi organisasi yang sudah menetapkan platform ERP pilihannya, memilih antara pendekatan low-code atau no-code bukan lagi soal tren teknologi, melainkan soal kecocokan strategi. Apakah bisnis membutuhkan kebebasan kustomisasi yang lebih dalam, atau justru mengutamakan kemudahan penggunaan oleh tim non-teknis agar proses berjalan lebih cepat?

Artikel ini akan membedah secara komparatif Low Code ERP dan No Code ERP, mulai dari karakteristik, perbedaan utama, hingga konteks penggunaan yang paling tepat. Tujuannya sederhana, membantu Anda menentukan model pengembangan ERP yang paling selaras dengan arah bisnis dan kesiapan organisasi.

Apa Itu Low Code ERP?

Dalam konteks ERP, Low Code ERP merujuk pada kemampuan sistem ERP untuk dikembangkan, dikustomisasi, atau diperluas dengan penulisan kode seminimal mungkin, menggunakan visual tools seperti drag-and-drop, konfigurasi logika bisnis, serta reusable components yang sudah disediakan platform.

Pendekatan ini biasanya ditujukan untuk kolaborasi antara tim IT dan tim bisnis. Tim IT tetap memegang kendali atas arsitektur, keamanan, dan integrasi, sementara pengembangan fitur, workflow, atau penyesuaian proses bisa dilakukan jauh lebih cepat dibandingkan metode coding konvensional.

Yang penting dipahami, low code bukan berarti tanpa coding sama sekali. Pada titik tertentu, terutama untuk kebutuhan yang kompleks seperti integrasi sistem eksternal, logika bisnis khusus, atau optimasi performa, kemampuan teknis tetap dibutuhkan. Bedanya, effort pengembangannya jauh lebih efisien karena fondasi sistemnya sudah tersedia.

Karakteristik Utama Low Code ERP

Beberapa ciri yang umumnya melekat pada Low Code ERP antara lain:

  • Fleksibilitas kustomisasi tinggi: Cocok untuk perusahaan dengan proses bisnis unik atau sering berubah.
  • Kontrol teknis tetap kuat: Governance, security, dan struktur data masih berada di bawah pengawasan tim IT.
  • Lebih scalable untuk jangka panjang: Cocok untuk organisasi yang memproyeksikan pertumbuhan dan kompleksitas sistem.
  • Waktu pengembangan lebih singkat dibanding ERP tradisional: Tanpa mengorbankan kualitas arsitektur.

Kapan Low Code ERP Menjadi Pilihan Ideal?

Low Code ERP umumnya paling relevan bagi perusahaan yang:

  • Sudah menggunakan ERP sebagai core system, bukan sekadar alat operasional.
  • Membutuhkan penyesuaian proses lintas departemen yang cukup kompleks.
  • Ingin mempercepat inovasi tanpa kehilangan kontrol teknis.
  • Memiliki atau bekerja sama dengan tim IT/internal partner implementasi.

Di titik ini, low code berfungsi sebagai jembatan antara stabilitas ERP enterprise dan kebutuhan agilitas bisnis. Low Code ERP menawarkan keseimbangan antara kecepatan pengembangan dan kontrol teknis. Pendekatan ini cocok untuk organisasi yang membutuhkan fleksibilitas tinggi tanpa mengorbankan struktur dan skalabilitas sistem.

Apa Itu No Code ERP?

Berbeda dengan low code, No Code ERP memungkinkan pengguna melakukan konfigurasi, penyesuaian alur kerja, atau pembuatan fungsi tertentu tanpa menulis kode sama sekali. Seluruh proses dilakukan melalui antarmuka visual, pilihan template, dan rule-based configuration yang sudah ditentukan oleh sistem ERP.

Pendekatan ini secara khusus dirancang agar pengguna non-teknis seperti tim operasional, finance, atau bisnis dapat melakukan penyesuaian mandiri tanpa harus selalu bergantung pada tim IT. Dalam praktiknya, no code sering diposisikan sebagai cara tercepat untuk merespons kebutuhan bisnis yang sifatnya taktis dan operasional.

Namun, kemudahan ini datang dengan batasan yang perlu dipahami sejak awal. No code bekerja optimal selama kebutuhan bisnis masih berada dalam koridor fitur dan logika yang sudah disiapkan oleh platform ERP tersebut.

Karakteristik Utama No Code ERP

Beberapa karakteristik yang umum ditemui pada No Code ERP antara lain:

  • Sangat mudah digunakan oleh non-IT: Antarmuka intuitif, minim kurva belajar, dan cepat diadopsi.
  • Implementasi dan perubahan bisa dilakukan sangat cepat: Cocok untuk kebutuhan yang mendesak atau eksperimental.
  • Kustomisasi terbatas pada opsi yang tersedia: Fleksibel di permukaan, namun tidak sedalam low code.
  • Minim risiko kesalahan teknis: Karena tidak ada penulisan kode, potensi error struktural lebih rendah.

Kapan No Code ERP Menjadi Pilihan yang Tepat?

No Code ERP biasanya ideal ketika:

  • Perusahaan ingin mempercepat adopsi ERP di level operasional.
  • Penyesuaian yang dibutuhkan relatif sederhana, seperti approval flow, form input, atau laporan dasar.
  • Tim bisnis ingin bergerak cepat tanpa menunggu backlog IT.
  • ERP digunakan sebagai process enabler, bukan sebagai sistem dengan logika kompleks yang sangat spesifik.

Dalam konteks ini, no code berperan sebagai akselerator produktivitas, bukan sebagai fondasi teknis jangka panjang.

No Code ERP unggul dari sisi kecepatan dan kemudahan, terutama untuk kebutuhan operasional yang tidak kompleks. Namun, keterbatasan fleksibilitasnya membuat pendekatan ini kurang ideal untuk skenario ERP yang membutuhkan penyesuaian mendalam dan skalabilitas tinggi.

Perbandingan Low Code ERP vs No Code ERP

Setelah memahami masing-masing pendekatan secara terpisah, pertanyaan terpentingnya bukan lagi mana yang lebih baik, tetapi mana yang paling sesuai dengan kebutuhan, struktur, dan arah bisnis Anda.

Low code dan no code sama-sama menawarkan percepatan pengembangan ERP, namun keduanya berangkat dari filosofi yang berbeda. Perbedaan ini akan sangat terasa ketika ERP mulai digunakan secara intensif dan skalanya membesar.

Perbandingan Berdasarkan Aspek Utama

AspekLow Code ERPNo Code ERP
Target PenggunaTim IT, developer, dan power userPengguna bisnis non-teknis
Kebutuhan CodingMinimal, namun tetap dimungkinkanTidak ada sama sekali
Fleksibilitas KustomisasiTinggi, bisa menangani logika kompleksTerbatas pada opsi yang tersedia
Kontrol Arsitektur & DataTetap kuat di tangan ITSangat bergantung pada platform
Kecepatan PengembanganCepat dibanding coding tradisionalSangat cepat untuk kebutuhan sederhana
Skalabilitas Jangka PanjangBaik untuk sistem ERP enterpriseCocok untuk skenario operasional ringan
Risiko Jangka PanjangLebih terkendali dengan governance yang tepatBerisiko jika dipaksakan untuk kompleksitas tinggi

Implikasi Nyata dalam Penggunaan ERP

Dalam praktiknya, perbedaan ini sering terlihat saat perusahaan mulai:

  • Menambahkan modul baru,
  • Mengintegrasikan ERP dengan sistem lain,
  • Atau menyesuaikan proses bisnis yang tidak standar.

Low Code ERP memberi ruang bagi perusahaan untuk bertumbuh tanpa harus mengganti pendekatan teknis di tengah jalan. Ketika kompleksitas meningkat, pendekatan ini masih bisa mengikuti.

Sebaliknya, No Code ERP sangat efektif di fase awal atau pada area operasional tertentu. Namun jika digunakan untuk kebutuhan yang terlalu kompleks, organisasi berisiko menghadapi keterbatasan yang justru memperlambat inovasi.

Kesalahan Umum dalam Memilih Pendekatan

Beberapa perusahaan terjebak memilih no code hanya karena kemudahannya, tanpa mempertimbangkan:

  • Rencana ekspansi bisnis,
  • Kebutuhan integrasi jangka panjang,
  • Atau kompleksitas proses yang akan muncul di kemudian hari.

Sebaliknya, ada juga yang memilih low code terlalu dini, padahal kebutuhan bisnisnya masih sederhana dan bisa diselesaikan dengan pendekatan no code yang lebih efisien.

Low Code ERP unggul dalam fleksibilitas dan skalabilitas, sementara No Code ERP menonjol dari sisi kecepatan dan kemudahan penggunaan. Keduanya bukan kompetitor mutlak, melainkan alat dengan fungsi yang berbeda dalam ekosistem ERP.

Kapan Memilih Low Code ERP dan Kapan No Code ERP?

Setelah melihat perbedaan keduanya secara langsung, keputusan memilih antara low code atau no code dalam ERP seharusnya tidak didasarkan pada tren, melainkan pada kondisi internal organisasi dan arah bisnis ke depan.

Pendekatan yang tepat akan membantu ERP berkembang seiring bisnis. Pendekatan yang keliru justru bisa menciptakan bottleneck baru.

Kapan Low Code ERP Lebih Tepat Digunakan?

Low Code ERP menjadi pilihan yang lebih rasional ketika:

  • Proses bisnis bersifat kompleks atau tidak standar: Misalnya melibatkan banyak aturan, pengecualian, atau logika khusus antar departemen.
  • ERP diposisikan sebagai sistem inti jangka panjang: Bukan sekadar alat operasional, tetapi fondasi digital perusahaan.
  • Kebutuhan integrasi cukup tinggi: ERP harus terhubung dengan sistem eksternal seperti CRM, MES, WMS, atau aplikasi pihak ketiga.
  • Perusahaan memiliki roadmap pertumbuhan yang agresif: Baik dari sisi skala operasi, volume data, maupun kompleksitas organisasi.
  • Tim IT atau partner implementasi ingin tetap memegang kendali teknis: Termasuk aspek keamanan, struktur data, dan performa sistem.

Dalam skenario ini, low code berperan sebagai enabler inovasi berkelanjutan, bukan hanya solusi cepat sesaat.

Kapan No Code ERP Lebih Efektif?

No Code ERP akan lebih optimal jika:

  • Fokus kebutuhan ada di level operasional: Seperti approval sederhana, form input, workflow dasar, atau laporan standar.
  • Tim bisnis perlu bergerak cepat tanpa menunggu pengembangan IT: Terutama untuk kebutuhan yang sifatnya mendesak atau eksperimental.
  • Perusahaan ingin mempercepat adopsi ERP oleh user: Dengan tools yang mudah digunakan dan minim hambatan teknis.
  • Kompleksitas proses masih relatif rendah dan stabil: Tidak banyak perubahan logika bisnis dalam waktu dekat.

Dalam konteks ini, no code berfungsi sebagai akselerator produktivitas, selama digunakan pada ruang lingkup yang tepat.

Pendekatan Hybrid: Realita di Banyak Perusahaan

Dalam praktiknya, banyak organisasi tidak sepenuhnya memilih salah satu. Mereka:

  • Menggunakan low code untuk core process ERP yang kompleks dan strategis,
  • Sementara no code dimanfaatkan di area operasional yang membutuhkan kecepatan dan fleksibilitas tinggi.

Pendekatan hybrid ini sering kali menjadi solusi paling realistis, selama didukung governance dan batasan yang jelas.

Low Code ERP cocok untuk kebutuhan strategis dan jangka panjang, sedangkan No Code ERP ideal untuk kebutuhan cepat dan operasional. Keputusan terbaik bergantung pada kompleksitas proses, kesiapan organisasi, dan arah pertumbuhan bisnis.

Contoh Ilustratif Penggunaan Low Code dan No Code dalam ERP

Agar perbedaannya lebih mudah dipahami, mari kita lihat bagaimana pendekatan low code dan no code bekerja dalam konteks penggunaan ERP sehari-hari di perusahaan. Contoh berikut bukan studi kasus spesifik vendor, melainkan ilustrasi umum yang sering terjadi di lapangan.

Contoh Penggunaan Low Code ERP

Sebuah perusahaan distribusi berskala nasional menggunakan ERP sebagai sistem inti untuk mengelola penjualan, keuangan, gudang, dan procurement. Seiring pertumbuhan bisnis, perusahaan ini menghadapi kebutuhan baru, seperti:

  • Skema approval harga yang berbeda untuk tiap wilayah,
  • Integrasi ERP dengan sistem logistik pihak ketiga,
  • Perhitungan insentif sales dengan aturan yang kompleks dan sering berubah.

Dengan pendekatan low code, tim IT dan partner implementasi dapat:

  • Menyesuaikan logika bisnis tanpa membangun modul dari nol,
  • Membuat workflow khusus yang tetap terintegrasi dengan data inti ERP,
  • Mengembangkan solusi yang scalable tanpa mengganggu stabilitas sistem utama.

Di sini, low code berfungsi sebagai alat adaptasi jangka panjang, memungkinkan software ERP terus berkembang tanpa harus melakukan re-implementasi besar.

Contoh Penggunaan No Code ERP

Di sisi lain, sebuah perusahaan jasa profesional ingin mempercepat adopsi ERP di level operasional. Tantangan utamanya bukan kompleksitas sistem, melainkan kecepatan dan kemudahan penggunaan.

Kebutuhan yang muncul antara lain:

  • Form pengajuan reimbursement karyawan,
  • Alur approval internal untuk permintaan pembelian,
  • Laporan operasional sederhana untuk manajemen cabang.

Dengan fitur no code, tim bisnis dapat:

  • Membuat dan mengubah workflow sendiri,
  • Menyesuaikan form dan approval tanpa bantuan IT,
  • Mengimplementasikan perubahan dalam hitungan jam, bukan minggu.

Dalam skenario ini, no code menjadi alat efisiensi operasional, membantu tim fokus pada pekerjaan inti tanpa hambatan teknis.

Pelajaran dari Dua Pendekatan

Dari dua ilustrasi tersebut, terlihat jelas bahwa:

  • Low code unggul ketika ERP harus menangani kompleksitas, integrasi, dan pertumbuhan.
  • No code sangat efektif untuk kecepatan, kemudahan, dan kebutuhan taktis.

Masalah biasanya muncul bukan karena teknologinya salah, melainkan karena pendekatan yang digunakan tidak sesuai dengan konteksnya.

Low Code ERP cocok untuk pengembangan ERP yang kompleks dan strategis, sementara No Code ERP ideal untuk kebutuhan operasional yang cepat dan sederhana. Keduanya memberikan nilai maksimal ketika digunakan pada ruang lingkup yang tepat.

Kesimpulan

Low Code ERP dan No Code ERP pada dasarnya tidak saling menggantikan, melainkan menjawab kebutuhan yang berbeda dalam perjalanan penggunaan ERP. Perbedaannya bukan sekadar teknis, tetapi menyentuh cara organisasi mengelola perubahan, pertumbuhan, dan kontrol sistem.

Low Code ERP memberikan ruang bagi perusahaan untuk membangun dan mengembangkan ERP secara berkelanjutan. Pendekatan ini ideal ketika ERP diposisikan sebagai sistem inti dengan proses kompleks, kebutuhan integrasi tinggi, dan roadmap jangka panjang yang jelas. Fleksibilitasnya memungkinkan bisnis tetap agile tanpa kehilangan kendali teknis.

Sebaliknya, No Code ERP unggul dalam kecepatan dan kemudahan. Pendekatan ini sangat efektif untuk mempercepat adopsi di level operasional, memungkinkan tim bisnis bergerak mandiri tanpa harus selalu bergantung pada tim IT. Selama digunakan pada ruang lingkup yang tepat, no code dapat menjadi akselerator produktivitas yang signifikan.

Bagi banyak perusahaan, keputusan terbaik bukan memilih salah satu secara mutlak, melainkan menentukan di area mana low code digunakan, dan di mana no code memberikan nilai paling besar. Dengan pemahaman ini, ERP tidak hanya menjadi sistem yang berjalan, tetapi sistem yang benar-benar mendukung strategi bisnis.

Pastikan Model ERP Anda Selaras dengan Strategi Bisnis

Jika Anda sudah menentukan platform ERP yang akan digunakan, langkah berikutnya adalah memastikan model pengembangannya benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan kesiapan organisasi. Kesalahan dalam memilih pendekatan low code atau no code dapat berdampak pada fleksibilitas, biaya, dan skalabilitas ERP di masa depan.

Untuk itu, Anda dapat:

  • Mendiskusikan kebutuhan bisnis dan kompleksitas proses secara menyeluruh,
  • Mengevaluasi fitur low code dan no code yang tersedia di ERP pilihan Anda,
  • Menguji langsung skenario penggunaan melalui demo sebelum implementasi.

💡 Ingin melihat langsung bagaimana pendekatan Low Code dan No Code diterapkan dalam ERP?

Tim konsultan Think Tank Solusindo siap membantu Anda mengevaluasi kebutuhan, mendemonstrasikan solusi ERP yang relevan, dan merancang strategi implementasi yang tepat.

📞 Hubungi Kami Sekarang!

FAQ: Low Code ERP vs No Code ERP

Perbedaan utamanya terletak pada tingkat fleksibilitas dan kebutuhan teknis. Low Code ERP masih memungkinkan penulisan kode dalam skala terbatas untuk menangani kebutuhan kompleks, sedangkan No Code ERP sepenuhnya mengandalkan konfigurasi visual tanpa coding, dengan ruang kustomisasi yang lebih terbatas.

No Code ERP aman digunakan selama diterapkan pada kebutuhan operasional yang sederhana dan terkontrol. Untuk sistem inti dengan logika kompleks, integrasi luas, dan kebutuhan skalabilitas tinggi, pendekatan low code umumnya lebih direkomendasikan.

Ya, dalam sebagian besar kasus Low Code ERP tetap memerlukan keterlibatan tim IT atau partner implementasi, terutama untuk menjaga arsitektur, keamanan data, dan integrasi sistem. Namun, beban pengembangannya jauh lebih ringan dibandingkan ERP dengan full custom coding.

Bisa. Banyak perusahaan menerapkan pendekatan hybrid, di mana low code digunakan untuk proses inti dan strategis, sementara no code dimanfaatkan untuk kebutuhan operasional yang membutuhkan kecepatan dan kemudahan.

Tidak selalu. Secara awal, No Code ERP terlihat lebih ekonomis karena cepat dan minim pengembangan. Namun, untuk jangka panjang dan kebutuhan kompleks, Low Code ERP sering kali lebih efisien karena mengurangi risiko keterbatasan sistem dan rework di kemudian hari.

Penentuan pendekatan sebaiknya didasarkan pada kompleksitas proses bisnis, rencana pertumbuhan, kebutuhan integrasi, dan kesiapan tim internal. Evaluasi melalui demo dan diskusi dengan konsultan ERP sangat disarankan sebelum mengambil keputusan.

https://8thinktank.com
Think Tank Solusindo adalah perusahaan konsultan ERP yang berdedikasi untuk membantu bisnis mengatasi tantangan operasional melalui solusi teknologi terbaik. Sebagai mitra resmi dari ERP global seperti SAP, Acumatica dan lainnya, kami tidak hanya menyediakan sistem — kami memberikan transformasi bisnis yang nyata. Kami percaya bahwa setiap perusahaan memiliki tantangan unik, dan itulah sebabnya tim kami hadir bukan hanya sebagai vendor, tapi sebagai partner strategis. Think Tank menggabungkan pengalaman industri, teknologi terkini, dan pendekatan konsultatif untuk memberikan solusi ERP yang tepat sasaran dan berdampak nyata bagi klien. Dengan dukungan teknologi kelas dunia, kami membantu perusahaan memperbaiki proses bisnis, meningkatkan efisiensi, dan mempercepat pertumbuhan. Apa yang membedakan Think Tank dari team lainnya? Kami bukan hanya menjual software — kami menyelesaikan masalah bisnis.