Integrasi ERP dengan E-Commerce

Integrasi ERP dengan E-commerce dan Marketplace: Studi Kasus Distributor Omnichannel

Senin pagi, tim gudang menerima pesanan dari toko daring, dua marketplace, dan mitra ritel dalam waktu hampir bersamaan. Di sistem, satu produk terlihat masih tersedia, tetapi saat petugas mengecek rak, barangnya sudah tidak ada. Pesanan terlanjur dikonfirmasi ke pelanggan, tim sales dan e-commerce harus meminta maaf, sementara tim keuangan menyimpan angka penjualan yang berbeda dari laporan gudang. Setiap departemen punya versi datanya sendiri, dan tidak ada yang benar-benar bisa dipegang.

Situasi ini sangat umum di perusahaan distribusi dan ritel yang tumbuh ke banyak saluran. Setiap saluran baru menambah satu sumber data baru. Ketika stok masih dicatat manual tanpa barcode, barang yang keluar bisa tidak tercatat, stok berayun antara kekurangan dan kelebihan, dan rekonsiliasi antar saluran memakan waktu berhari-hari sehingga tutup buku ikut tertunda. Di sisi lain, tim IT lebih banyak tersita untuk menjaga sistem lama tetap berjalan ketimbang mendukung pertumbuhan bisnis.

Kondisi serupa pernah dialami sebuah perusahaan distribusi, ritel, dan produksi perlengkapan plumbing dan filtrasi air. Perusahaan ini menjual ke konsumen lewat toko daring dan marketplace, ke mitra ritel besar, dan ke para profesional, ditambah layanan langganan suku cadang habis pakai yang menyumbang porsi pendapatan cukup besar. Berdasarkan studi kasus kali ini, perjalanan mereka bergerak dari sistem ERP lama yang berat dan laporan yang saling bertentangan menuju satu platform yang terhubung langsung dengan toko daring, marketplace, dan pengiriman.

Bagi direktur, manajer operasional, manajer gudang, maupun manajer keuangan di perusahaan yang menjual lewat banyak saluran sekaligus, kisah ini memberi gambaran konkret. Pembahasan berikut mengikuti alurnya, mulai dari masalah yang dihadapi, pertimbangan memilih platform, hingga hasil yang dilaporkan perusahaan, lalu apa yang bisa dipelajari untuk kondisi bisnis di Indonesia.

📌 Key Takeaways

  • Stok, pesanan, dan keuangan yang dicatat terpisah di setiap saluran membuat laporan saling bertentangan, rekonsiliasi lama, dan tutup buku tertunda.
  • Integrasi ERP dengan toko daring dan marketplace menyatukan pesanan dan stok dalam satu platform, sehingga ketersediaan barang mengikuti kondisi gudang yang sebenarnya.
  • Barcode, nomor seri, dan pelacakan lot membuat pencatatan stok lebih akurat, mengurangi barang tak tercatat, dan membuat penghitungan stok lebih ringkas.
  • Layanan langganan pengisian ulang dapat berjalan otomatis di dalam ERP, terhubung langsung dengan stok, pengiriman, dan pencatatan keuangan.
  • Sebelum memilih ERP, pastikan stok menjadi satu data untuk semua saluran, uji fitur standar sebelum kustomisasi, dan minta demo dengan data perusahaan sendiri.
  • Hasil yang dilaporkan dalam studi kasus ini menjadi gambaran, bukan jaminan, karena kondisi dan kesiapan tiap perusahaan berbeda.

Profil Perusahaan dalam Studi Kasus

Perusahaan yang akan dibahas kali ini bergerak di tiga lini sekaligus, yaitu distribusi, ritel, dan produksi perlengkapan plumbing dan filtrasi air. Skalanya tergolong menengah, dengan tim berjumlah puluhan karyawan. Kombinasi tiga lini itu membuat alur barangnya lebih kompleks dibanding distributor murni, karena ada produk yang diproduksi sendiri, ada yang dibeli untuk dijual kembali, dan semuanya harus tercatat dalam satu persediaan yang sama.

Dari sisi penjualan, perusahaan ini tidak bergantung pada satu pintu. Konsumen dilayani lewat toko daring sendiri dan marketplace, sementara pesanan dalam jumlah besar datang dari mitra ritel besar. Di jalur lain, para profesional seperti teknisi dan kontraktor juga membeli langsung. Setiap saluran punya ritme pesanan, pola pengiriman, dan kebutuhan pelaporan yang berbeda, sehingga data dari semuanya harus bisa dibaca dalam satu gambaran yang utuh.

Ada satu lagi yang membuat profil perusahaan ini menarik: layanan langganan suku cadang habis pakai yang menyumbang porsi pendapatan cukup signifikan. Produk filtrasi air memang punya komponen yang perlu diganti secara berkala, sehingga pelanggan bisa berlangganan agar pengisian ulang datang tanpa harus dipesan satu per satu. Bagi perusahaan, ini pendapatan berulang yang menguntungkan, tetapi juga menuntut jadwal pengiriman, penagihan, dan ketersediaan stok yang konsisten dari bulan ke bulan.

Profil seperti inilah yang membuat kisahnya relevan bagi banyak distributor dan ritel di Indonesia. Begitu bisnis menjual lewat banyak saluran sekaligus, stok, pesanan, pengiriman, dan keuangan tidak lagi bisa dikelola lewat catatan yang terpisah-pisah. Karena itu, masalah yang muncul di perusahaan ini terasa sangat familier, dan akan dibahas pada bagian berikutnya.

Masalah yang Dihadapi Sebelum Implementasi

Sebelum beralih ke platform baru, perusahaan ini bekerja dengan sistem ERP lama yang sangat dikustomisasi dan mahal untuk dirawat. Karena hampir setiap kebutuhan ditangani lewat penyesuaian khusus, sistemnya sulit disentuh tanpa bantuan tim IT khusus. Bahkan untuk tugas dasar, tim harus menunggu dukungan teknis, sehingga ketergantungan pada tim IT menjadi hambatan sehari-hari dan bukan sekadar urusan teknis.

Dampaknya paling terasa di sisi pelaporan. Laporan yang dihasilkan tidak andal dan sering saling bertentangan, sehingga manajemen sulit memegang satu angka yang bisa dipercaya. Angka penjualan dari satu saluran tidak selalu cocok dengan catatan stok, dan catatan stok tidak selalu cocok dengan laporan keuangan. Setiap keputusan, mulai dari menambah pembelian hingga menentukan saluran mana yang perlu didorong, akhirnya diambil dengan data yang diragukan.

Di gudang, masalahnya lebih mendasar. Stok dicatat secara manual tanpa barcode, sehingga barang yang keluar-masuk mudah terlewat dari pencatatan. Akibatnya, ada barang yang tidak tercatat dan sering harus dihapusbukukan, sementara posisi stok berayun antara kekurangan dan kelebihan. Untuk bisnis yang menjual lewat toko daring dan marketplace, kondisi ini berisiko tinggi, karena pesanan bisa masuk untuk barang yang ternyata tidak tersedia di rak, atau sebaliknya, modal tertahan di barang yang menumpuk.

Semua ketidakcocokan itu bermuara pada akhir bulan. Rekonsiliasi memakan waktu lama, sehingga tutup buku ikut lambat, dan tim keuangan lebih banyak menghabiskan waktu mencocokkan angka daripada menganalisisnya. Padahal perusahaan ini punya layanan langganan yang menuntut ketepatan stok dan jadwal pengiriman setiap bulan, sehingga kesalahan kecil pada data bisa langsung terasa di sisi pelanggan.

Kondisi ini terasa familiar?

Ceritakan kendala stok dan rekonsiliasi Anda di sesi konsultasi gratis, tim konsultan kami akan bantu petakan solusinya.

Konsultasi Gratis

Alasan Memilih Platform ERP

Setelah melihat masalah di atas, kriteria yang dicari perusahaan ini sebenarnya cukup sederhana: sistem yang membuat stok bisa dipercaya, laporan bisa diandalkan, dan operasional tidak lagi bergantung pada tim IT khusus. Dari beberapa pertimbangan yang dilaporkan, pengelolaan stok yang lebih kuat menjadi alasan utama. Untuk bisnis yang menjual lewat banyak saluran, satu data stok yang akurat menentukan apakah pesanan dari toko daring, marketplace, dan mitra ritel bisa dipenuhi tepat waktu.

Alasan berikutnya adalah pelaporan yang andal. Setelah bertahun-tahun menghadapi laporan yang saling bertentangan, perusahaan membutuhkan angka yang sama dibaca oleh manajemen, gudang, sales, dan keuangan. Laporan yang konsisten memungkinkan keputusan dibuat dengan lebih yakin, tanpa harus mencocokkan data dari beberapa sumber terlebih dahulu.

Pertimbangan lain yang tak kalah penting adalah platform yang bisa dikelola tim sendiri, dengan fitur standar yang bisa dipakai tanpa kustomisasi berat. Pengalaman dengan sistem ERP lama membuat perusahaan berhati-hati terhadap penyesuaian yang rumit, karena setiap kustomisasi menambah ketergantungan dan beban perawatan. Dengan fitur yang sudah tersedia dan bisa dioperasikan tim internal, perusahaan bisa bergerak lebih mandiri ketika kebutuhan bisnis berubah.

Faktor yang menjadi penentu terakhir adalah demo dengan data perusahaan sendiri. Alih-alih hanya melihat presentasi dengan data contoh, tim bisa menyaksikan langsung bagaimana stok, pesanan, dan laporan mereka tampil di dalam platform. Dari situ, keputusan diambil berdasarkan bukti yang relevan dengan operasional mereka, bukan sekadar janji fitur.

Pola pertimbangan ini bisa jadi cermin: yang dicari bukan sistem dengan fitur paling banyak, melainkan sistem yang menyelesaikan masalah stok dan pelaporan secara langsung dan bisa dijalankan tim sendiri.

Hasil yang Dilaporkan Perusahaan

Perubahan paling terasa terjadi di gudang. Stok kini dicatat secara otomatis, lengkap dengan pembuatan nomor seri, pelacakan lot, dan pemindaian barcode. Setiap barang yang masuk, bergerak, dan keluar meninggalkan jejak yang jelas, sehingga barang yang sebelumnya kerap tidak tercatat dan akhirnya dihapusbukukan bisa ditelusuri. Untuk produk yang perlu dilacak per unit atau per kelompok produksi, kemampuan ini membuat riwayat barang bisa dibuka kapan pun dibutuhkan.

Akurasi pencatatan itu berdampak langsung pada penghitungan stok yang kini bisa selesai dalam sehari. Dulu, penghitungan fisik dan pencocokan ke catatan memakan waktu dan sering memunculkan selisih yang sulit dijelaskan. Dengan barcode dan data yang sudah terkelola di sistem, tim gudang punya acuan yang sama untuk dicek, sehingga proses penghitungan lebih ringkas dan hasilnya lebih bisa dipercaya.

Di sisi penjualan, sistem terhubung langsung dengan toko daring dan marketplace. Pesanan dari berbagai saluran masuk ke platform yang sama dengan data stok, sehingga tim tidak perlu memindahkan data secara manual dan risiko menjual barang yang sudah habis bisa ditekan. Dari sisi pengiriman, perusahaan melaporkan proses yang lebih cepat dan pilihan kurir yang lebih fleksibel, karena informasi pesanan dan stok sudah tersedia di satu tempat saat barang disiapkan.

Layanan langganan pengisian ulang, yang menjadi bagian penting dari pendapatan perusahaan, kini berjalan otomatis, termasuk pembaruan berkala. Pelanggan juga dapat mengelola akunnya sendiri, sehingga tim tidak lagi harus mengurus setiap perubahan secara manual. Bagian ini dibahas lebih rinci pada bagian berikutnya.

Di sisi keuangan dan manajemen, tutup buku menjadi lebih cepat karena data dari berbagai saluran sudah menyatu dan tidak lagi memerlukan rekonsiliasi panjang. Manajemen pun mendapat laporan real-time yang konsisten antar departemen. Selain itu, perusahaan berencana memperluas saluran penjualan dan meluncurkan program afiliasi. Di saat penulisan artikel studi kasus ini, keduanya masih berupa rencana, tetapi fondasi data yang kini terpusat membuat rencana tersebut lebih mungkin dijalankan.

Otomatisasi Layanan Langganan di Dalam ERP

Layanan langganan sering dianggap urusan sisi penjualan saja, padahal dampaknya merambat ke hampir semua bagian perusahaan. Setiap kali pelanggan berlangganan suku cadang habis pakai, ada pesanan berulang yang harus dibuat, stok yang harus disiapkan, barang yang harus dikirim, dan tagihan yang harus dicatat. Jika semuanya dikerjakan manual, volume langganan yang bertambah berarti beban administrasi yang ikut membengkak, dan peluang terjadinya kesalahan pun makin besar.

Dalam kasus ini, layanan langganan kini berjalan otomatis di dalam sistem, termasuk pembaruan berkala setiap siklusnya. Tim tidak perlu lagi membuat pesanan pengisian ulang satu per satu atau mengingat jadwal tiap pelanggan. Pelanggan pun bisa mengelola akunnya sendiri, misalnya menyesuaikan langganan mereka tanpa harus menghubungi tim terlebih dahulu. Hasilnya, waktu tim yang sebelumnya habis untuk pekerjaan berulang bisa dialihkan ke hal yang lebih bernilai.

Keuntungan lain yang sering terlewat adalah keterhubungan dengan stok dan keuangan. Karena langganan berjalan di platform yang sama dengan persediaan, kebutuhan stok untuk siklus berikutnya bisa dibaca lebih awal, sehingga ketersediaan suku cadang lebih mudah dijaga. Di sisi keuangan, pendapatan berulang tercatat dalam satu alur yang sama dengan penjualan lainnya, sehingga tidak perlu dicocokkan lagi di akhir bulan dan ikut membantu tutup buku yang lebih cepat.

Bagi perusahaan distribusi dan ritel yang punya produk habis pakai, pola ini patut diperhatikan. Pendapatan berulang menjadi fondasi yang stabil, tetapi hanya jika jadwal, stok, pengiriman, dan penagihan berjalan sinkron. Di situlah ERP yang terhubung memberi nilai lebih dibanding catatan yang tersebar di banyak tempat.

Relevansi bagi Distributor dan Ritel Multi Saluran di Indonesia

Pola yang dialami perusahaan dalam studi kasus ini sangat dekat dengan kondisi distributor dan ritel di Indonesia. Pertumbuhan belanja daring membuat banyak perusahaan distribusi membuka toko daring sendiri, masuk ke marketplace, sambil tetap melayani mitra ritel dan pelanggan korporasi. Setiap saluran punya format pesanan dan ritme pengiriman masing-masing, sehingga tanpa sistem yang menyatukan data, stok dan penjualan mudah saling bertentangan.

Karena itu, integrasi ERP dengan toko daring dan marketplace menjadi kebutuhan inti. Pesanan dari semua saluran perlu masuk ke satu platform yang sama dengan data persediaan, sehingga ketersediaan barang yang tampil kepada pembeli selalu mengikuti kondisi gudang yang sebenarnya. Di tingkat gudang, pencatatan stok dengan barcode, nomor seri, dan pelacakan lot membantu menjaga akurasi, terutama untuk produk yang perlu ditelusuri per unit atau per kelompok.

Perusahaan di Indonesia juga punya kebutuhan lokal yang harus ikut dipertimbangkan, seperti penyesuaian dengan ketentuan perpajakan (misalnya faktur pajak dan PPN), pilihan ekspedisi yang beragam, serta pola pembayaran yang khas. Hal-hal ini sebaiknya dibahas sejak awal bersama tim implementasi, supaya alur transaksi sehari-hari sudah sesuai kebutuhan operasional dan pelaporan di dalam negeri.

Bagi perusahaan yang sedang menimbang langkah berikutnya, Think Tank Solusindo mendampingi bisnis distribusi dan ritel dalam memilih serta menerapkan ERP. Anda bisa melihat gambaran solusinya di halaman software distributor, yang membahas kebutuhan distributor dan wholesaler secara lebih luas.

Pembahasan ini paling cocok bagi perusahaan dengan omset tahunan sekitar Rp 250 miliar dan 50 sampai 200 karyawan yang menjual lewat banyak saluran sekaligus. Pada skala ini, pencatatan manual dan data yang terpisah biasanya sudah mulai terasa menghambat, tetapi organisasi belum tentu punya tim IT besar untuk menjaga sistem yang rumit.

Pelajaran untuk Pembaca

Dari perjalanan perusahaan yang dibahas kali ini, ada tiga hal praktis yang bisa dijadikan bahan evaluasi: tanda-tanda bahwa data antar saluran sudah tidak sinkron, pertanyaan yang perlu diajukan sebelum memilih ERP, dan persiapan yang perlu dilakukan dari sisi perusahaan.

Tanda Stok dan Penjualan Antar Saluran Sudah Tidak Sinkron

Gejalanya biasanya muncul lebih dulu di operasional sehari-hari. Pesanan masuk untuk barang yang ternyata kosong di rak, angka stok di toko daring berbeda dengan catatan gudang, dan laporan penjualan tiap saluran sulit dicocokkan dengan laporan keuangan.

Jika tim sering menghabiskan waktu di akhir bulan hanya untuk mencari penyebab selisih, atau barang kerap dihapusbukukan karena tidak jelas keberadaannya, itu sinyal kuat bahwa pencatatan perlu disatukan. Tanda lain yang tak kalah penting adalah ketika tim IT lebih sering dipanggil untuk menambal sistem daripada mendukung pengembangan bisnis.

Pertanyaan Sebelum Memilih ERP

Agar evaluasi tidak berhenti pada daftar fitur, ada tiga pertanyaan yang layak diajukan kepada diri sendiri dan kepada calon penyedia.

  1. Apakah stok menjadi satu data untuk semua saluran? Toko daring, marketplace, mitra ritel, dan gudang sebaiknya membaca angka persediaan yang sama, bukan salinan yang disinkronkan manual.
  2. Apakah fitur standar sudah cukup sebelum memutuskan kustomisasi? Kustomisasi berat memang tampak menjawab kebutuhan, tetapi menambah biaya perawatan dan ketergantungan jangka panjang.
  3. Apakah demo bisa memakai data perusahaan sendiri? Melihat stok dan pesanan nyata tampil di dalam sistem jauh lebih meyakinkan daripada data contoh.

Persiapan dari Sisi Perusahaan

Platform yang baik tidak otomatis berhasil jika perusahaan belum siap. Sebelum implementasi, rapikan data induk seperti daftar barang, pelanggan, dan pemasok, karena data yang berantakan hanya akan berpindah ke sistem baru.

Tentukan juga siapa yang bertanggung jawab di tiap departemen, mulai dari gudang, sales dan e-commerce, hingga keuangan, supaya keputusan tidak menumpuk di satu orang. Terakhir, siapkan tim untuk membiasakan alur kerja baru, termasuk pemindaian barcode di gudang, karena perubahan kebiasaan sering memakan waktu lebih lama daripada perubahan sistemnya.

Dampak ke Tim

Penyatuan data stok, pesanan, dan keuangan tidak hanya mengubah sistem, tetapi juga cara kerja tiap departemen. Berikut gambaran dampaknya pada enam tim yang biasanya paling terlibat dalam perusahaan distribusi dan ritel multi saluran.

  1. Manajemen mendapat satu sumber data yang bisa dipercaya. Laporan real-time dari seluruh saluran membuat keputusan seperti menambah pembelian, menentukan saluran yang perlu didorong, atau menilai performa layanan langganan bisa diambil dengan angka yang konsisten, tanpa menunggu rekonsiliasi di akhir bulan.
  2. Tim gudang merasakan perubahan paling nyata dalam pekerjaan harian. Pencatatan lewat barcode, nomor seri, dan pelacakan lot mengurangi ketergantungan pada catatan manual, sementara penghitungan stok yang lebih ringkas membuat posisi persediaan lebih mudah dijaga. Proses menyiapkan dan mengirim pesanan pun lebih terarah karena informasi sudah tersedia saat barang diambil.
  3. Tim sales dan e-commerce bekerja dengan data stok yang sama dengan gudang. Pesanan dari toko daring dan marketplace tidak perlu lagi dipindahkan manual, dan risiko menjual barang yang tidak tersedia dapat ditekan. Tim juga lebih mudah membaca performa tiap saluran untuk menyusun strategi penjualan.
  4. Tim keuangan tidak lagi menghabiskan banyak waktu mencocokkan angka antar sumber. Karena transaksi dari setiap saluran mengalir ke sistem yang sama, proses tutup buku bisa lebih cepat dan waktu tim dapat dialihkan ke analisis, bukan sekadar penyelarasan data.
  5. Tim IT terbantu oleh platform yang bisa dikelola oleh tim sendiri. Dengan fitur standar yang tidak bergantung pada kustomisasi berat, perhatian tim IT bisa bergeser dari menjaga sistem tetap berjalan ke mendukung kebutuhan bisnis yang baru.
  6. Tim purchasing memperoleh gambaran stok yang lebih akurat untuk merencanakan pembelian. Ketika posisi persediaan lebih jelas, keputusan kapan dan berapa banyak barang yang perlu dipesan menjadi lebih terukur, sehingga kemungkinan stok berayun antara kekurangan dan kelebihan dapat dikurangi.

Kesimpulan

Dari permasalahan yang dialami perusahaan distributor omnichannel ini menunjukkan bahwa masalah stok dan pelaporan di bisnis multi saluran jarang bersumber dari satu hal saja. Pencatatan manual tanpa barcode, laporan yang saling bertentangan, rekonsiliasi yang lama, dan ketergantungan pada tim IT saling memperkuat satu sama lain. Ketika perusahaan beralih ke platform yang menyatukan stok untuk semua saluran, terhubung langsung dengan toko daring dan marketplace, serta mengotomatiskan pencatatan lewat barcode, nomor seri, dan pelacakan lot, dampaknya terasa dari gudang hingga ruang rapat manajemen.

Bagi perusahaan distribusi dan ritel di Indonesia, pelajarannya jelas: sebelum memilih ERP, pastikan stok menjadi satu data untuk semua saluran, uji dulu apakah fitur standar sudah cukup sebelum memutuskan kustomisasi, dan minta demo dengan data perusahaan sendiri. Persiapan dari sisi internal, seperti merapikan data induk dan membagi tanggung jawab antar departemen, sama pentingnya dengan platform yang dipilih. Setiap perusahaan punya kondisi berbeda, sehingga hasil yang dilaporkan dalam studi kasus ini perlu dibaca sebagai gambaran, bukan jaminan.

Think Tank Solusindo siap mendampingi perusahaan yang ingin menyatukan penjualan, stok, dan keuangan lewat Acumatica. Pembahasan ini paling cocok bagi perusahaan dengan omset tahunan sekitar Rp 250 miliar dan 50 sampai 200 karyawan yang menjual lewat banyak saluran sekaligus. Hubungi kami sekarang untuk menjadwalkan demo gratis dan temukan bagaimana solusi ERP dapat disesuaikan dengan kebutuhan bisnis Anda.

KONSULTASI GRATIS, TANPA KOMITMEN

Masih Bingung Pilih Sistem ERP yang Tepat?

Tim konsultan kami siap membantu Anda menemukan solusi ERP yang paling sesuai dengan kebutuhan industri Anda.

✓ 15+ Tahun Pengalaman✓ 100+ Proyek Sukses✓ Konsultan Lintas Industri
Konsultasi via WhatsAppCoba Demo Gratis

Tanpa komitmen, tanpa biaya tersembunyi. Tim kami merespons dalam 1x24 jam kerja.

FAQ seputar Integrasi ERP dengan E-commerce dan Marketplace

Apa yang dimaksud dengan integrasi ERP dengan e-commerce dan marketplace?

Integrasi ini menghubungkan sistem ERP dengan toko daring dan marketplace sehingga pesanan, stok, dan data penjualan dari semua saluran mengalir ke satu platform. Dengan begitu, ketersediaan barang yang tampil kepada pembeli mengikuti kondisi gudang yang sebenarnya, dan tim tidak perlu memindahkan data secara manual.

Mengapa stok dan penjualan antar saluran sering tidak sinkron?

Setiap saluran biasanya mencatat pesanan dengan caranya sendiri, sementara stok di gudang dicatat terpisah, sering kali secara manual. Ketika data tidak disatukan, selisih mudah muncul, misalnya pesanan masuk untuk barang yang sudah habis atau laporan penjualan yang sulit dicocokkan dengan catatan keuangan.

Apa manfaat barcode, nomor seri, dan pelacakan lot di gudang?

Barcode mempercepat dan merapikan pencatatan barang masuk dan keluar, sedangkan nomor seri dan pelacakan lot memungkinkan barang ditelusuri per unit atau per kelompok. Kombinasi ini membantu menjaga akurasi stok, mengurangi barang yang tidak tercatat, dan mempermudah penghitungan stok.

Apakah ERP dapat mengotomatiskan layanan langganan pengisian ulang?

Bisa. Pesanan berulang, pembaruan berkala, dan pengelolaan akun oleh pelanggan dapat dijalankan di dalam sistem, sehingga tim tidak perlu membuat pesanan satu per satu. Karena berjalan di platform yang sama dengan stok dan keuangan, kebutuhan persediaan dan pencatatan pendapatan berulang juga lebih mudah dikelola.

Perusahaan seperti apa yang paling cocok dengan pembahasan ini?

Pembahasan ini paling cocok bagi perusahaan distribusi atau ritel dengan omset tahunan sekitar Rp 250 miliar dan 50 sampai 200 karyawan yang menjual lewat banyak saluran sekaligus, seperti toko daring sendiri, marketplace, mitra ritel, dan penjualan ke profesional.

Apa yang perlu disiapkan sebelum memilih ERP untuk bisnis multi saluran?

Pastikan stok menjadi satu data untuk semua saluran, uji apakah fitur standar sudah cukup sebelum memutuskan kustomisasi, dan minta demo dengan data perusahaan sendiri. Dari sisi internal, rapikan data induk seperti daftar barang, pelanggan, dan pemasok, tentukan penanggung jawab di tiap departemen, serta siapkan tim untuk membiasakan alur kerja baru.

Sebagai content writer staff di Think Tank Solusindo, Cicilia bertugas membuat karya tulis yang berhubungan dengan dunia ERP dan sejumlah produk yang ditawarkan oleh Think Tank, seperti Acumatica, SAP Business One, hingga SAP S/4HANA. Dengan tulisannya, ia sudah membantu memberikan solusi terbaik kepada pemilik bisnis seputar meningkatkan efisiensi manajemen perusahaan, sekaligus memberikan rekomendasi software ERP yang dapat mengotomatiskan pengelolaan bisnis.