
Studi Kasus Manufaktur dan Instalasi: Dari Belasan Aplikasi & Tumpukan Kertas ke Satu Sistem
Software manufaktur dan kontraktor yang tidak saling terhubung biasanya baru terlihat keteteran ketika satu pesanan harus berpindah tangan berkali-kali sebelum sampai ke lapangan. Tim sales menutup kesepakatan, lalu datanya diketik ulang ke sistem kontrak, ke aplikasi akuntansi, ke daftar kebutuhan material di spreadsheet, dan ke jadwal pemasangan yang dicatat di atas kertas. Setiap perpindahan membuka peluang salah ketik, selisih versi, dan keterlambatan yang baru ketahuan setelah masalahnya membesar.
Di perusahaan yang hanya memproduksi, kondisi ini saja sudah melelahkan. Di perusahaan yang juga memasang dan melayani produknya di lokasi pelanggan, dampaknya berlipat. Pekerjaan baru selesai kalau produk dari pabrik, material dari gudang, dan tim lapangan bertemu pada waktu yang tepat. Satu mata rantai yang terlambat membuat seluruh proyek ikut tertunda, sementara tim keuangan baru memegang angka yang akurat berhari-hari setelah laporan bulan berakhir.
Gambaran itulah yang dihadapi sebuah perusahaan manufaktur dan instalasi yang menangani desain, produksi, pemasangan, hingga servis dengan tangan sendiri. Dalam kasus ini, perusahaan berhasil mengganti belasan aplikasi dan tumpukan kertas dengan satu sistem terpadu, dan perubahannya terlihat jelas pada kecepatan tutup buku, akurasi stok, serta seberapa jauh ke depan produksi bisa direncanakan.
Perjalanan tersebut layak ditelusuri langkah demi langkah, mulai dari masalah yang menghambat, alasan di balik pilihan platform, sampai hasil yang dilaporkan. Pola masalahnya sangat mungkin terasa familiar bagi pabrik di Indonesia yang juga menangani pemasangan produknya sendiri.
Key Takeaways
- Perusahaan yang merancang, memproduksi, memasang, dan melayani produknya sendiri paling cepat menyentuh batas cara kerja lama, karena satu informasi yang terlambat bisa menggeser seluruh proyek.
- Tumpukan kertas dan belasan aplikasi yang tidak terhubung memaksa staf mengetik ulang data dan membuka banyak sistem untuk satu tugas.
- Menyatukan penjualan, proyek, pembelian, produksi, dan servis dalam satu alur membuat jumlah aplikasi turun dari belasan menjadi empat atau lima.
- Tutup buku bulanan yang sebelumnya sekitar 10 hari kerja menjadi tiga hari kerja, dan akurasi stok naik dari 75% menjadi lebih dari 98%.
- MRP memberi peringatan sebelum komponen habis, sementara jangka perencanaan bergeser dari mingguan ke bulanan.
- Sebelum memilih ERP, pastikan proses dari penjualan sampai servis berjalan tanpa input ulang dan sistem terhubung dengan aplikasi yang masih dipakai.
Profil Perusahaan dalam Studi Kasus
Perusahaan dalam studi kasus kali ini menjalankan model bisnis yang cukup jarang ditemui: seluruh rantai pekerjaan dipegang sendiri, mulai dari merancang produk, memproduksinya, memasangnya di lokasi pelanggan, sampai melayani servis setelah pemasangan. Tidak ada pekerjaan yang dilempar ke pihak ketiga, sehingga kualitas dan ketepatan waktu sepenuhnya menjadi tanggung jawab internal.
Skalanya pun tidak kecil. Perusahaan ini memiliki ratusan karyawan dan menangani ratusan proyek setiap bulan, dengan lebih dari seratus personel lapangan yang bergerak ke berbagai lokasi pelanggan. Artinya, setiap bulan ada ratusan pesanan yang harus dirancang, diproduksi, dijadwalkan pemasangannya, lalu ditagih, dan semuanya berjalan paralel dengan tim yang tersebar.
Model seperti ini membuat koordinasi antar fungsi menjadi tulang punggung bisnis. Tim sales perlu tahu kapasitas produksi sebelum menjanjikan tanggal pemasangan, tim produksi perlu tahu material apa yang harus tersedia, tim lapangan perlu tahu produk mana yang siap dipasang, dan tim keuangan perlu tahu proyek mana yang sudah bisa ditagih. Satu informasi yang terlambat atau salah tercatat bisa menggeser seluruh rangkaian di belakangnya.
Karena itu, wajar bila pertumbuhan bisnis seperti ini cepat menyentuh batas cara kerja lama. Selama jumlah proyek masih sedikit, kertas dan beberapa aplikasi terpisah masih bisa diatasi dengan kerja keras. Begitu volumenya mencapai ratusan proyek per bulan, kerja keras saja tidak lagi cukup, dan celah di antara sistem mulai terasa di setiap departemen.
Masalah yang Dihadapi Sebelum Implementasi
Sebelum memakai sistem terpadu, bisnis ini berjalan di atas tumpukan kertas dan hingga belasan aplikasi yang tidak saling terhubung. Satu tugas sederhana, misalnya memproses pesanan baru, menuntut staf membuka beberapa sistem sekaligus dan memindahkan datanya secara manual dari satu layar ke layar lain. Waktu yang seharusnya dipakai untuk melayani pelanggan habis untuk urusan administrasi.
Pola input ulang ini paling terasa di awal siklus penjualan. Data lead dan kontrak diketik ulang satu sistem demi satu sistem, mulai dari sistem CRM yang sudah ada, ke sistem akuntansi dasar, lalu ke aplikasi pihak ketiga yang dipakai tim lain. Setiap pengetikan ulang membuka peluang salah angka, dan ketika data di satu sistem berbeda dengan sistem lainnya, tim harus meluangkan waktu untuk mencari tahu versi mana yang benar.
Di sisi produksi, kondisinya lebih rumit lagi karena perusahaan belum memiliki perangkat lunak produksi sama sekali. Penjadwalan hanya bisa dilihat sekitar satu minggu ke depan, sehingga pembelian material dan pengaturan kapasitas selalu bersifat reaktif. Ketika musim ramai tiba dan pesanan menumpuk, tim hanya bisa menebak apakah komponen akan cukup, dan baru sadar ada yang kurang setelah produksi terhambat.
Tim lapangan juga ikut terdampak. Komisi personel lapangan dihitung secara manual, dan akurasinya sering diragukan oleh orang-orang yang menerimanya. Perhitungan yang tidak transparan seperti ini mudah memicu perdebatan di akhir periode, menyita waktu tim keuangan, dan perlahan mengikis kepercayaan di antara tim yang seharusnya bekerja searah.
Satu lagi risiko yang sering luput dari perhatian adalah infrastruktur. Sebagian sistem berjalan di server lokal yang rentan ketika infrastruktur kantor terganggu. Bila listrik, jaringan, atau perangkat server bermasalah, seluruh proses yang bergantung padanya ikut berhenti, padahal tim lapangan dan proyek tetap berjalan dan menunggu keputusan.
Alasan Memilih Platform yang Menyatukan Semua Proses
Dengan masalah sebanyak itu, kriteria utama perusahaan dalam memilih platform baru cukup jelas: semua proses harus berada dalam satu lingkungan yang menyatu. Penjualan, proyek, pembelian, produksi, keuangan, dan servis tidak lagi boleh tersebar di aplikasi berbeda yang harus disambungkan dengan input manual. Ketika data lahir sekali di awal proses, setiap tim berikutnya bisa langsung memakainya tanpa mengetik ulang.
Namun, tidak semua kebutuhan bisa dilayani oleh satu platform saja. Perusahaan tetap memakai beberapa alat khusus yang sudah menjadi bagian dari cara kerja tim, sehingga kemampuan terhubung dengan aplikasi pihak ketiga menjadi pertimbangan penting. Pilihan yang masuk akal adalah platform yang menjadi pusat data bisnis, dengan jalur integrasi yang jelas ke aplikasi lain yang masih dibutuhkan, bukan platform yang menuntut semuanya diganti sekaligus.
Faktor lain yang ikut menentukan adalah peta jalan pengembangan yang jelas. Bisnis yang menangani ratusan proyek per bulan tidak bisa berganti sistem setiap beberapa tahun, jadi perusahaan mencari platform yang arah pengembangannya terlihat dan bisa tumbuh bersama kebutuhan bisnis. Di samping itu, sistem harus mudah dipakai oleh orang non-teknis. Staf penjualan, gudang, dan tim lapangan perlu bisa bekerja tanpa harus bergantung pada tim IT untuk setiap langkah kecil.
Titik yang paling meyakinkan datang saat demonstrasi dashboard yang menampilkan kondisi bisnis pada hari itu juga. Bagi manajemen yang sebelumnya harus menunggu berhari-hari setelah akhir bulan untuk mengetahui angka yang akurat, melihat posisi penjualan, proyek, dan operasional dalam satu layar terasa seperti perubahan cara memandang bisnis. Dari situ, pertanyaannya bergeser dari “perlukah berganti” menjadi “seberapa cepat bisa dimulai”.
Hasil Otomatisasi Alur Kerja dari Penjualan hingga Servis
Perubahan pertama yang paling mudah dilihat ada pada jumlah aplikasi. Dari belasan aplikasi yang berjalan sendiri-sendiri, kini tersisa empat atau lima. Pengurangan ini bukan sekadar soal merapikan daftar perangkat lunak. Setiap aplikasi yang hilang berarti satu titik input ulang yang lenyap, satu sumber data ganda yang tidak perlu dicocokkan, dan satu kata sandi yang tidak perlu dikelola staf.

Dampak terbesarnya terasa pada alur kerja yang kini berjalan otomatis dari kesepakatan penjualan sampai ke proyek, faktur awal, pembelian, dan penerimaan barang. Begitu kesepakatan tercatat, data yang sama langsung dipakai untuk membuka proyek, menerbitkan faktur awal, memicu pembelian material yang dibutuhkan, dan mencatat barang yang diterima di gudang. Tim tidak lagi menunggu rekan lain mengetik ulang informasi sebelum bisa memulai pekerjaannya sendiri.
Bagi tim keuangan, efeknya terlihat jelas di akhir bulan. Tutup buku bulanan yang sebelumnya memakan sekitar 10 hari kerja kini selesai dalam tiga hari kerja. Penyebabnya masuk akal: transaksi sudah tercatat di satu tempat sejak awal, sehingga waktu yang dulu habis untuk menyatukan data dari banyak sistem dan mencocokkan selisihnya tidak lagi dibutuhkan. Manajemen pun bisa membaca angka bulan berjalan jauh lebih cepat dan memakainya untuk mengambil keputusan, bukan sekadar mengarsipkannya.
Perubahan ini juga mengubah cara tim bekerja sehari-hari. Alih-alih menghabiskan energi untuk memindahkan data, staf bisa memakai waktunya untuk hal yang benar-benar membutuhkan penilaian, seperti menindaklanjuti pelanggan, memantau kemajuan proyek, dan memastikan pemasangan berjalan sesuai rencana. Otomatisasi alur kerja di sini bukan tentang menggantikan orang, melainkan menghilangkan pekerjaan berulang yang selama ini menahan pertumbuhan.
Hasil pada Akurasi Stok, MRP, dan Jangka Perencanaan

Di sisi gudang dan produksi, perubahan paling menonjol ada pada akurasi stok yang naik dari sekitar 75% menjadi lebih dari 98%. Selisih antara catatan dan barang yang benar-benar ada di rak menyempit drastis, sehingga tim tidak lagi mengambil keputusan berdasarkan angka yang diragukan. Dampaknya langsung terasa di musim puncak, ketika kehabisan stok kini nyaris nol, padahal periode itulah yang dulu paling sering menimbulkan keterlambatan pemasangan.
Perusahaan yang sebelumnya tidak punya perangkat lunak produksi kini memakai perencanaan kebutuhan material (MRP) yang memberi peringatan sebelum komponen habis. Sistem menghitung kebutuhan dari pesanan dan jadwal produksi, lalu mengingatkan tim pembelian saat suatu komponen mendekati batas aman. Pola kerja pun bergeser dari memadamkan masalah setelah produksi terhenti menjadi mencegahnya sejak beberapa langkah di depan. Bagi pabrik yang mengandalkan MRP untuk perusahaan manufaktur, inilah titik ketika perencanaan berhenti menjadi tebak-tebakan.
Tim lapangan juga merasakan perubahannya. Komisi personel lapangan kini dihitung otomatis dari data proyek yang sudah tercatat, sehingga angkanya bisa ditelusuri dan tidak lagi mudah diperdebatkan. Para teknisi memakai aplikasi mobile untuk mengakses informasi pekerjaan dari lokasi pelanggan, dan setiap peran di perusahaan memperoleh dashboard yang disesuaikan dengan kebutuhannya. Direktur melihat gambaran bisnis secara menyeluruh, sementara staf gudang atau tim lapangan melihat hal yang relevan untuk pekerjaan mereka.
Perubahan yang mungkin paling strategis adalah jangka waktu perencanaan yang bergeser dari mingguan menjadi bulanan. Dulu produksi hanya terlihat sekitar seminggu ke depan, sekarang tim bisa menata material, kapasitas, dan jadwal pemasangan untuk satu bulan penuh. Perencanaan yang lebih panjang membuat keputusan pembelian lebih tenang dan jadwal lapangan lebih realistis.
Di luar angka-angka tersebut, manajemen perusahaan juga memperkirakan sistem ini membantu mereka menghindari penambahan karyawan yang tadinya dianggap perlu untuk menangani beban administrasi. Ini murni perkiraan manajemen perusahaan, bukan hasil yang terukur, tetapi arahnya sejalan dengan gambaran besar: pertumbuhan proyek tidak lagi harus diikuti pembengkakan pekerjaan manual.
Relevansi bagi Pabrik di Indonesia yang Memasang Produknya di Lokasi Pelanggan
Pola yang dialami perusahaan manufaktur dan instalasi ini sangat akrab di industri Indonesia. Banyak pabrik di sini tidak berhenti di gerbang pabrik: mereka juga memasang, menguji, dan melayani produknya di lokasi pelanggan, entah itu panel, mesin, perangkat bangunan, atau sistem pendukung lainnya. Begitu pekerjaan melibatkan tim lapangan yang berpindah-pindah, informasi dari penjualan, gudang, produksi, dan keuangan harus tiba tepat waktu di tangan orang yang tepat.
Di sinilah menyatukan penjualan, proyek, produksi, dan servis dalam satu alur menjadi sangat berharga. Ketika kesepakatan yang tercatat di tim sales langsung menjadi proyek, kebutuhan material, jadwal produksi, dan penjadwalan pemasangan, pabrik tidak perlu lagi mengandalkan telepon, pesan singkat, dan lembar rekap manual untuk menyambungkan antar tim. Hal yang sama berlaku setelah pemasangan selesai, saat permintaan servis dan garansi perlu terhubung dengan riwayat proyek yang bersangkutan.
Penerapan di Indonesia juga membawa kebutuhan lokal yang tidak bisa diabaikan. Kewajiban perpajakan, misalnya penerbitan faktur pajak dan pencatatan PPN yang mengikuti ketentuan di sini, harus berjalan wajar di dalam sistem dan tidak menjadi pekerjaan manual di luar sistem. Begitu pula proses penagihan proyek bertahap serta pelaporan keuangan yang selaras dengan kebiasaan perusahaan di Indonesia. Hal-hal seperti ini perlu dipetakan sejak awal supaya implementasi tidak terhenti di tengah jalan.
Karena itu, pemilihan software ERP untuk manufaktur sebaiknya tidak hanya melihat fitur di atas kertas, tetapi juga seberapa baik sistem itu menjawab alur kerja nyata pabrik Anda, dari lantai produksi sampai lokasi pelanggan. Pendampingan yang memahami kondisi bisnis di Indonesia membantu menerjemahkan kebutuhan tersebut menjadi konfigurasi yang benar, sehingga hasil seperti tutup buku lebih cepat dan stok lebih akurat bukan sekadar angka dalam presentasi.
Pelajaran untuk Pembaca
Permasalahan yang dialami perusahaan manufaktur dan instalasi ini memberi beberapa bahan refleksi bagi perusahaan manufaktur yang juga menangani pemasangan atau servis.
Tanda Sistem Terpisah Menghambat
Hal pertama yang layak dicermati adalah tanda-tanda bahwa alur kerja manual dan aplikasi terpisah sudah menghambat pertumbuhan. Bila staf harus masuk ke beberapa sistem untuk satu tugas, data yang sama diketik ulang di banyak tempat, tutup buku memakan waktu berhari-hari, dan jadwal produksi hanya bisa dilihat beberapa hari ke depan, biasanya masalahnya bukan pada kerja keras tim. Masalahnya ada pada struktur sistem yang membuat setiap tambahan proyek menambah beban administrasi.
Pertanyaan Sebelum Memilih ERP
Sebelum memilih ERP, ada beberapa pertanyaan yang sebaiknya Anda ajukan kepada diri sendiri dan kepada calon penyedia solusi. Berikut pertanyaan yang paling menentukan bagi perusahaan dengan model bisnis seperti ini:
- Apakah proses dari penjualan sampai servis bisa berjalan tanpa input ulang? Perhatikan apakah kesepakatan penjualan otomatis menjadi proyek, kebutuhan material, jadwal produksi, penagihan, dan riwayat servis dalam satu alur.
- Apakah integrasi dengan sistem yang sudah ada tersedia? Tidak semua aplikasi perlu diganti, jadi pastikan data dari alat yang tetap dipakai bisa terhubung dengan sistem baru.
- Apakah tim non-teknis bisa memakainya dengan nyaman? Sistem yang hanya dipahami tim IT akan membuat pekerjaan kembali menumpuk di satu pintu.
- Apakah tim lapangan dan manajemen mendapat informasi yang sesuai perannya? Dashboard dan akses dari lokasi pelanggan sering menjadi pembeda antara sistem yang hidup dan sistem yang hanya dipakai di kantor.
Persiapan Sisi Perusahaan
Persiapan dari sisi perusahaan sama pentingnya dengan pemilihan sistem. Rapikan data induk lebih dulu, seperti daftar barang, pemasok, dan pelanggan, karena data yang berantakan akan ikut berpindah ke sistem baru. Libatkan perwakilan tiap fungsi sejak awal, dari sales, produksi, gudang, keuangan, sampai tim lapangan, supaya alur yang dirancang mencerminkan pekerjaan sebenarnya dan bukan sekadar asumsi manajemen.
Terakhir, tetapkan tujuan yang terukur sebelum implementasi dimulai. Studi kasus di atas memperlihatkan bahwa hasil terbaik muncul ketika perusahaan tahu persis apa yang ingin diperbaiki, misalnya kecepatan tutup buku, akurasi stok, atau jangka waktu perencanaan, lalu memantau perubahannya setelah sistem berjalan.
Dampak ke Tim
Perubahan sistem selalu terasa berbeda di tiap meja kerja. Berikut gambaran bagaimana alur terpadu mengubah keseharian masing-masing fungsi di perusahaan ini.
- Manajemen kini melihat kondisi bisnis hari itu lewat dashboard, tanpa menunggu rekap akhir bulan. Keputusan soal kapasitas, pembelian, dan prioritas proyek bisa diambil dengan data yang lebih segar, dan perencanaan yang bergeser dari mingguan ke bulanan memberi ruang untuk berpikir lebih jauh ke depan.
- Tim Sales tidak lagi mengetik ulang data lead dan kontrak ke banyak sistem. Begitu kesepakatan tercatat, informasinya mengalir ke proyek dan proses berikutnya, sehingga waktu mereka lebih banyak tersedia untuk pelanggan dan lebih sedikit terpakai untuk administrasi.
- Tim Produksi akhirnya punya perangkat lunak untuk merencanakan pekerjaan. Dengan peringatan dari perencanaan kebutuhan material sebelum komponen habis, mereka bisa menata jadwal dengan jangkauan lebih panjang dan tidak lagi bekerja reaktif terhadap kekurangan bahan.
- Tim Gudang bekerja dengan catatan stok yang jauh lebih bisa dipercaya, dari sekitar 75% menjadi lebih dari 98% akurasi. Penerimaan barang tercatat dalam alur yang sama dengan pembelian, sehingga selisih antara catatan dan kondisi rak jauh berkurang.
- Tim Keuangan merasakan perubahan paling nyata di akhir bulan, ketika tutup buku turun dari sekitar 10 hari kerja menjadi tiga. Perhitungan komisi yang kini otomatis juga mengurangi perdebatan dan pekerjaan penghitungan ulang di akhir periode.
- Tim Lapangan memakai aplikasi mobile untuk mengakses informasi pekerjaan dari lokasi pelanggan, dan komisi mereka dihitung dengan cara yang bisa ditelusuri. Kepercayaan terhadap angka yang diterima menjadi lebih baik.
- Tim IT kini mengelola empat atau lima aplikasi, bukan belasan yang berjalan sendiri-sendiri. Beban pemeliharaan integrasi antar aplikasi menyusut, sehingga mereka bisa lebih fokus mendukung pengguna dan kebutuhan bisnis berikutnya.
Kesimpulan
Permasalahan yang dialami perusahaan manufaktur dan instalasi ini menunjukkan bahwa hambatan pertumbuhan sering bersembunyi di celah antar aplikasi, bukan di kemampuan timnya. Dari belasan aplikasi dan tumpukan kertas, perusahaan beralih ke satu sistem yang menyatukan penjualan, proyek, pembelian, produksi, dan servis. Hasilnya terlihat pada angka yang mudah dipahami: tutup buku dari sekitar 10 hari kerja menjadi tiga, akurasi stok dari 75% menjadi lebih dari 98%, dan jangka perencanaan yang bergeser dari mingguan ke bulanan.
Bagi pabrik di Indonesia yang juga memasang atau melayani produknya di lokasi pelanggan, pelajaran utamanya sederhana. Ukur seberapa sering data diketik ulang, seberapa lama angka bulanan baru bisa dipercaya, dan seberapa jauh produksi bisa direncanakan. Jika jawabannya masih berkisar pada hitungan hari dan minggu, alur kerja Anda sudah layak ditinjau ulang. Memilih software ERP cloud yang mampu menjalankan proses dari penjualan sampai servis tanpa input ulang adalah langkah awal yang masuk akal.
Solusi seperti ini paling relevan bagi perusahaan manufaktur dengan omset tahunan sekitar Rp 250 miliar dan 50 sampai 200 karyawan yang masih bergantung pada banyak aplikasi terpisah dan input manual. Jika kondisi tersebut terdengar seperti perusahaan Anda, hubungi kami sekarang dan jadwalkan demo gratis untuk melihat bagaimana alur terpadu bisa diterapkan pada bisnis Anda.
Masih Bingung Pilih Sistem ERP yang Tepat?
Tim konsultan kami siap membantu Anda menemukan solusi ERP yang paling sesuai dengan kebutuhan industri Anda.
Tanpa komitmen, tanpa biaya tersembunyi. Tim kami merespons dalam 1x24 jam kerja.
FAQ seputar ERP untuk Manufaktur dan Kontraktor
Apa yang dimaksud dengan ERP untuk manufaktur dan kontraktor?
ERP untuk manufaktur dan kontraktor adalah sistem terpadu yang menyatukan penjualan, proyek, pembelian, produksi, keuangan, dan servis dalam satu alur data. Sistem ini dirancang untuk perusahaan yang tidak hanya memproduksi barang, tetapi juga memasang dan melayani produknya di lokasi pelanggan, sehingga informasi tidak perlu diketik ulang di banyak aplikasi.
Kapan perusahaan manufaktur yang juga memasang produknya perlu beralih ke ERP?
Peralihan layak dipertimbangkan ketika staf harus membuka beberapa sistem untuk satu tugas, data pesanan diketik ulang di banyak tempat, tutup buku memakan waktu berhari-hari, dan jadwal produksi hanya terlihat beberapa hari ke depan. Tanda-tanda ini biasanya muncul saat jumlah proyek per bulan sudah mencapai ratusan.
Apakah ERP bisa mempercepat tutup buku bulanan?
Bisa. Ketika transaksi tercatat di satu sistem sejak awal, waktu untuk menyatukan data dari banyak aplikasi dan mencocokkan selisihnya berkurang drastis. Dalam kasus perusahaan manufaktur dan instalasi yang dibahas di artikel ini, tutup buku bulanan turun dari sekitar 10 hari kerja menjadi tiga hari kerja.
Bagaimana ERP membantu meningkatkan akurasi stok dan perencanaan material?
ERP mencatat penerimaan, pemakaian, dan pergerakan barang dalam alur yang sama dengan pembelian dan produksi, sehingga catatan stok lebih bisa dipercaya. Fitur perencanaan kebutuhan material (MRP) juga bisa memberi peringatan sebelum komponen habis. Perusahaan dalam kasus kali ini melaporkan akurasi stok naik dari sekitar 75% menjadi lebih dari 98%, dengan kehabisan stok di musim puncak nyaris nol.
Apakah semua aplikasi lama harus diganti saat implementasi ERP?
Tidak harus. Platform yang baik menjadi pusat data bisnis sekaligus terhubung dengan aplikasi pihak ketiga yang masih dibutuhkan. Dalam studi kasus ini, jumlah aplikasi turun dari belasan menjadi empat atau lima, bukan menjadi satu-satunya aplikasi.
Perusahaan seperti apa yang paling cocok memakai solusi ini?
Solusi ini paling relevan bagi perusahaan manufaktur yang juga memasang atau melayani produknya di lokasi pelanggan, dengan omset tahunan sekitar Rp 250 miliar dan 50 sampai 200 karyawan, yang masih memakai banyak aplikasi terpisah dan input manual.

