ERP di Pabrik Fabrikasi Logam

Dari Work Order Kertas ke Produksi Digital: Studi Kasus ERP di Pabrik Fabrikasi Logam

Pagi hari di lantai produksi, operator mencari selembar work order yang kemarin masih ada di meja supervisor. Lembar itu ternyata terselip di antara tumpukan kertas lain, tulisan tangannya sulit dibaca, dan tidak jelas apakah ukuran yang tertera adalah revisi terakhir atau bukan. Di saat yang sama, tim gudang menyebut bahan sudah tersedia, padahal stok di rak tidak sesuai dengan catatan. Sementara itu, tim sales kembali menerima pertanyaan dari pelanggan: pesanan khusus mereka sebenarnya sudah sampai tahap mana?

Situasi seperti ini sangat umum di pabrik yang memproduksi sesuai pesanan. Setiap order bisa punya ukuran, material, dan konfigurasi yang berbeda, sehingga satu kesalahan kecil di work order bisa menggeser jadwal seluruh lini. Ketika informasi tersebar di kertas, spreadsheet, dan aplikasi yang tidak saling terhubung, waktu tunggu pesanan kompleks pun ikut memanjang tanpa ada yang benar-benar tahu penyebabnya.

Artikel ini mengulas perjalanan sebuah produsen produk logam fabrikasi untuk bangunan yang menghadapi tantangan serupa. Dari masalah yang mereka hadapi, alasan mereka beralih ke platform ERP, sampai hasil yang dilaporkan, Anda bisa melihat bagaimana ERP untuk pabrik fabrikasi logam dan produsen sejenis dapat mengubah cara kerja di lantai produksi. Di bagian akhir, kami juga merangkum pelajaran yang bisa Anda terapkan, terutama jika pabrik Anda sedang menjalankan produksi make-to-order dan mulai merasakan tanda-tanda yang sama.

📌 Key Takeaways

  • Produsen produk logam fabrikasi untuk bangunan dalam studi kasus ini awalnya bergantung pada sistem akuntansi dasar, aplikasi penjualan, dan spreadsheet yang terpisah.
  • Work order ditulis tangan dan dibawa fisik ke lantai produksi, sehingga mudah hilang atau membingungkan.
  • Pencatatan stok sempat tertinggal jauh dari kondisi sebenarnya, produksi tertunda, dan pesanan sulit dilacak sampai pengiriman.
  • Platform ERP dipilih karena mudah dipakai, fleksibel, terbuka untuk integrasi, dan sejalan dengan rencana pertumbuhan perusahaan.
  • Perusahaan melaporkan seluruh proses dari penawaran sampai penagihan berada di satu platform, dengan data stok real-time.
  • Waktu tunggu pesanan kompleks dilaporkan menyusut dari lebih dari tiga minggu menjadi sekitar 10 hari.
  • Sebelum memilih ERP, pastikan work order dan stok berbagi satu data, pesanan berkonfigurasi kompleks bisa dikelola, dan akses di lantai produksi sudah dipikirkan.

Profil Perusahaan dalam Studi Kasus

Perusahaan dalam studi kasus kali ini adalah produsen produk logam fabrikasi yang melayani kebutuhan bangunan. Skalanya berada di kelas menengah, dengan puluhan karyawan yang tersebar di berbagai bagian, mulai dari penjualan, produksi, gudang, hingga keuangan.

Yang membuat operasinya menantang bukan hanya jumlah pesanan, melainkan ragam pesanannya. Pelanggan datang dengan kebutuhan yang berbeda-beda, sehingga setiap pesanan bisa memiliki variasi dan tingkat kompleksitas sendiri. Pesanan sederhana mungkin cepat selesai, tetapi pesanan dengan banyak spesifikasi membutuhkan koordinasi yang jauh lebih rapat antara tim penjualan, produksi, dan gudang.

Karakter seperti ini sangat dikenal oleh pabrik fabrikasi logam, furnitur, maupun produsen produk bangunan di Indonesia. Ketika volume pesanan mulai naik dan variasinya makin banyak, cara kerja yang dulu terasa cukup bisa berubah menjadi hambatan. Itulah titik di mana perusahaan ini mulai merasakan bahwa sistem yang dipakai tidak lagi sanggup mengikuti pertumbuhan, dan akan kita bahas di bagian berikutnya.

Masalah yang Dihadapi Sebelum Implementasi

Sebelum beralih ke ERP, perusahaan ini menjalankan operasional dengan kombinasi sistem akuntansi dasar, aplikasi penjualan, dan spreadsheet. Masing-masing berjalan sendiri-sendiri. Data penawaran ada di satu tempat, catatan stok di tempat lain, dan jadwal produksi di tempat yang berbeda lagi. Selama volume pesanan masih kecil, susunan ini masih bisa diakali dengan koordinasi manual. Namun begitu pesanan bertambah dan variasinya makin beragam, sistem yang terpisah ini mulai menghambat pertumbuhan perusahaan.

Dampak paling terasa ada di lantai produksi. Work order ditulis tangan di atas kertas, lalu dibawa langsung ke bagian produksi. Kertas yang berpindah dari meja ke meja mudah hilang, rusak, atau terselip. Kalaupun sampai, tulisan yang kurang jelas atau spesifikasi yang berubah di tengah jalan membuat operator harus bertanya ulang, dan waktu produksi terbuang untuk memastikan hal yang seharusnya sudah pasti.

Masalah berikutnya ada di stok. Pencatatan stok sempat tertinggal sangat jauh dari kondisi sebenarnya, sehingga tim tidak bisa yakin bahan yang tercatat benar-benar tersedia. Akibatnya, produksi kerap tertunda karena bahan yang dikira ada ternyata belum siap, atau sebaliknya, bahan menumpuk tanpa terpantau. Visibilitas operasional yang kurang ini membuat perencanaan lebih banyak mengandalkan perkiraan daripada data.

Di sisi pelanggan, melacak sebuah pesanan dari produksi sampai pengiriman juga sulit dilakukan. Tim penjualan harus bertanya ke produksi, produksi bertanya ke gudang, dan jawabannya belum tentu sama di setiap bagian. Untuk pesanan kompleks yang melibatkan banyak tahap, ketidakjelasan ini membuat waktu tunggu terasa jauh lebih panjang, baik bagi pelanggan maupun bagi tim internal.

Kondisi Ini Terasa Familiar?

Kalau perusahaan Anda mengalami masalah di atas, tim konsultan kami siap membantu memberikan solusi terbaik!

Hubungi Tim Kami

Alasan Memilih Platform ERP

Setelah merasakan dampak dari sistem yang terpisah, perusahaan ini mencari platform yang bisa menyatukan seluruh alur kerja dalam satu tempat. Dari permasalahan yang dialami perusahaan ini, ada tiga pertimbangan utama yang membuat mereka memilih Acumatica Cloud ERP, ditambah satu hal yang menyangkut arah bisnis ke depan.

  1. Antarmuka yang mudah dipakai
    Di pabrik, sistem baru hanya berguna kalau benar-benar dipakai oleh orang-orang yang bekerja setiap hari, bukan hanya oleh tim keuangan atau IT. Antarmuka yang mudah dipahami membuat staf penjualan, gudang, dan produksi lebih cepat beradaptasi, sehingga kebiasaan lama seperti mencatat di kertas atau spreadsheet tidak mudah kembali.
  2. Fleksibel mengikuti cara kerja perusahaan
    Pesanan dengan variasi dan kompleksitas berbeda menuntut sistem yang tidak kaku. Perusahaan membutuhkan platform yang bisa menyesuaikan alur kerja dengan cara mereka memproduksi, bukan sebaliknya memaksa pabrik mengubah cara kerja agar cocok dengan sistem.
  3. Terbuka untuk integrasi
    Kebutuhan bisnis hampir selalu berkembang, dan tidak jarang ada aplikasi lain yang tetap perlu terhubung dengan ERP. Platform yang terbuka untuk integrasi memberi ruang bagi perusahaan untuk menambah atau menghubungkan sistem pendukung tanpa harus membangun ulang dari awal.
  4. Sejalan dengan rencana pertumbuhan
    Pertimbangan terakhir adalah kecocokan dengan rencana pertumbuhan perusahaan. Sebelumnya, sistem lama justru menjadi penghambat ketika bisnis berkembang. Karena itu, platform baru dipilih dengan harapan dapat mengikuti pertumbuhan perusahaan, bukan sekadar menyelesaikan masalah yang ada hari ini.

Keempat alasan ini menarik dicermati karena tidak ada satu pun yang bersifat teknis semata. Semuanya berkaitan dengan seberapa mudah sistem dipakai di lapangan dan seberapa siap sistem itu mendampingi bisnis yang terus bertambah besar. Cara pandang ini juga relevan bagi Anda yang sedang menimbang ERP untuk pabrik make-to-order, dan kami bahas lebih lanjut di bagian Pelajaran untuk Pembaca.

Hasil yang Dilaporkan Perusahaan

Setelah ERP berjalan, perubahan paling mendasar yang dilaporkan perusahaan adalah bersatunya seluruh proses bisnis dalam satu platform. Penawaran, penjualan, produksi, hingga penagihan kini tidak lagi tersebar di sistem akuntansi, aplikasi penjualan, dan spreadsheet yang berbeda. Setiap bagian bekerja dengan data yang sama, sehingga pertanyaan seperti “pesanan ini sudah sampai mana” bisa dijawab langsung dari sistem tanpa perlu bertanya dari meja ke meja.

Di lantai produksi, perpindahan ke work order digital ERP menghapus ketergantungan pada kertas yang harus dibawa fisik. Instruksi kerja tersimpan di sistem, sehingga risiko lembar yang hilang, terselip, atau sulit dibaca ikut berkurang. Alur kerja yang sebelumnya bergantung pada koordinasi manual juga diotomatisasi. Menurut laporan perusahaan, otomatisasi ini membantu menghilangkan hambatan yang sebelumnya menahan produksi, sekaligus memperbaiki perencanaan karena tim tidak lagi bekerja dengan perkiraan semata.

Perubahan berikutnya ada pada stok. Data stok kini tersedia secara real-time, berbeda dengan kondisi sebelumnya ketika pencatatan sempat tertinggal sangat jauh dari keadaan sebenarnya. Dengan visibilitas stok produksi ERP yang akurat, tim gudang dan produksi bisa memastikan ketersediaan bahan sebelum sebuah order dijadwalkan. Keputusan tentang apa yang perlu dibeli, kapan produksi bisa dimulai, dan pesanan mana yang perlu didahulukan menjadi lebih mudah diambil.

Dampak yang paling mudah dibayangkan terlihat pada waktu tunggu pesanan kompleks. Perusahaan melaporkan bahwa pesanan yang sebelumnya membutuhkan lebih dari tiga minggu kini selesai dalam sekitar 10 hari. Angka ini menarik bagi siapa pun yang sedang mencari cara mengurangi lead time produksi ERP, karena penyusutan tersebut tidak datang dari satu fitur tunggal. Waktu tunggu memendek ketika work order tidak lagi tersesat, bahan bisa dipastikan lebih awal, dan setiap tim melihat status pesanan yang sama.

Mengapa Konfigurasi Produk Penting untuk Pesanan Make-to-Order

Pada produksi massal, satu produk diproduksi berulang kali dengan spesifikasi yang sama. Pada produksi make-to-order, kondisinya terbalik. Produk baru benar-benar dibuat setelah pelanggan menentukan kebutuhannya, dan kebutuhan itu hampir selalu berbeda dari pesanan sebelumnya. Di sinilah pabrik mulai merasakan beratnya mengelola variasi.

Ambil contoh produsen railing atau kanopi logam. Satu pesanan bisa berbeda di ukuran, jenis material, ketebalan, model sambungan, hingga finishing permukaan. Setiap kombinasi punya konsekuensi pada kebutuhan bahan baku, urutan kerja di lantai produksi, dan estimasi waktu pengerjaan. Jika semua detail ini dicatat manual di kertas atau spreadsheet, kemungkinan salah baca, salah hitung, atau ada spesifikasi yang terlewat akan meningkat seiring bertambahnya variasi.

Fitur product configurator ERP dirancang untuk menjawab masalah tersebut. Secara umum, konfigurator memungkinkan tim penjualan memilih opsi produk sesuai permintaan pelanggan, lalu sistem menerjemahkan pilihan itu menjadi daftar bahan, langkah produksi, dan work order yang konsisten. Spesifikasi yang sama mengalir dari penawaran ke produksi tanpa perlu ditulis ulang di setiap tahap. Karena aturan kombinasi sudah tersimpan di sistem, pilihan yang tidak kompatibel juga bisa dicegah sejak awal, sebelum menjadi pekerjaan ulang di lantai produksi.

Bagi ERP untuk produksi make-to-order, manfaat konfigurasi produk terasa di beberapa titik:

  1. Penawaran lebih cepat dan lebih akurat, karena tim sales bekerja dari opsi yang sudah terstruktur, bukan dari catatan lepas.
  2. Work order lebih jelas, karena spesifikasi pesanan langsung menjadi instruksi kerja yang bisa dibaca semua pihak.
  3. Kebutuhan bahan lebih mudah dihitung, sehingga perencanaan produksi dan pembelian tidak bergantung pada perkiraan.
  4. Pelacakan pesanan lebih rapi, karena setiap pesanan khusus punya jejak data yang utuh dari penawaran sampai pengiriman.

Dalam pembahasan terkait masalah yang dialami perusahaan ini, pesanan dengan variasi dan kompleksitas berbeda adalah tantangan utama perusahaan, dan waktu tunggu pesanan kompleks adalah salah satu hasil yang paling terlihat. Pola ini sejalan dengan kebutuhan banyak pabrik make-to-order: semakin beragam produk yang dibuat, semakin besar pula nilai dari sistem yang mampu mengelola variasi tersebut dalam satu alur data. Anda bisa melihat gambaran lebih luas tentang kebutuhan ini di halaman kami tentang software manufaktur.

Pelajaran untuk Pembaca

Pola masalahnya yang dialami oleh perusahaan ini sangat dikenal oleh pabrik make-to-order di Indonesia, baik di fabrikasi logam, furnitur, maupun produk bangunan. Work order kertas yang berpindah-pindah, stok yang tidak sinkron, dan pesanan khusus yang sulit dilacak adalah keluhan yang sering kami dengar dari tim manufaktur.

Di Think Tank, diskusi dengan pabrik seperti ini biasanya berkisar pada work order digital, perencanaan produksi, konfigurasi produk, serta kebutuhan lokal seperti perpajakan yang harus berjalan selaras dengan alur produksi. Selain itu, ada tiga pelajaran yang bisa Anda bawa ke pabrik sendiri.

Tanda-Tanda Work Order Kertas dan Sistem Terpisah Sudah Menghambat Produksi

Masalah ini jarang muncul sebagai satu kejadian besar. Biasanya ia menumpuk sebagai gangguan kecil yang terasa wajar karena terjadi setiap hari. Periksa apakah kondisi berikut sudah terjadi di tempat Anda:

  1. Work order hilang, terselip, atau membingungkan karena tulisan tangan dan revisi yang tidak jelas.
  2. Catatan stok sering berbeda dengan kondisi fisik di gudang.
  3. Produksi tertunda karena bahan yang dikira tersedia ternyata belum siap.
  4. Tim sales harus bertanya ke beberapa bagian hanya untuk tahu status satu pesanan.
  5. Pesanan dengan konfigurasi kompleks menunggu jauh lebih lama dari perkiraan awal.
  6. Data penawaran, produksi, dan penagihan harus disatukan manual dari beberapa file.

Jika beberapa poin sudah terasa akrab, sistem yang terpisah kemungkinan besar sudah menjadi penghambat, bukan lagi sekadar ketidaknyamanan.

Pertanyaan yang Perlu Dijawab Sebelum Memilih ERP

Sebelum membandingkan opsi, tanyakan dulu hal-hal yang menentukan apakah sebuah ERP akan benar-benar berguna di lantai produksi:

  1. Apakah work order dan stok berada dalam satu data? Jika keduanya terpisah, masalah ketidaksinkronan akan tetap ada meski work order sudah digital.
  2. Apakah pesanan dengan konfigurasi kompleks bisa dikelola? Pastikan variasi ukuran, material, dan finishing dapat tercatat rapi dari penawaran sampai produksi, tanpa harus ditulis ulang.
  3. Siapa saja yang perlu akses di lantai produksi? Tentukan sejak awal siapa yang membuka, memperbarui, dan memantau work order, agar sistem tidak hanya dipakai di kantor.

Untuk gambaran lebih luas tentang kriteria pemilihan, Anda bisa membaca ulasan kami tentang software ERP manufaktur terbaik. Jika Anda ingin melihat bagaimana kebutuhan serupa dibahas di industri lain, Anda juga dapat membaca artikel ERP untuk pabrik perlindungan rumah dan kontraktor serta artikel ERP cloud untuk pabrik garmen.

Persiapan dari Sisi Perusahaan

ERP bukan sekadar perangkat lunak yang dipasang lalu langsung bekerja. Hasilnya sangat bergantung pada kesiapan perusahaan sendiri. Beberapa persiapan yang membantu:

  1. Rapikan data dasar, seperti daftar bahan, produk, dan spesifikasi yang selama ini tersebar di spreadsheet, agar migrasi tidak membawa data yang berantakan.
  2. Petakan alur kerja yang berjalan sekarang, dari penawaran, produksi, gudang, sampai pengiriman, termasuk kebiasaan tidak tertulis yang selama ini hanya dipahami orang tertentu.
  3. Tunjuk penanggung jawab dari tiap bagian, supaya keputusan selama implementasi tidak menumpuk di satu orang.
  4. Libatkan pengguna lantai produksi sejak awal, karena merekalah yang paling merasakan apakah alur baru mudah dijalankan.
  5. Siapkan kebiasaan baru, termasuk berhenti mencatat paralel di kertas begitu sistem mulai dipakai.

Efek ke Tim

Perpindahan dari work order kertas ke alur digital tidak hanya mengubah cara kerja di lantai produksi. Karena semua bagian memakai data yang sama, dampaknya terasa di hampir seluruh tim. Berikut gambaran perubahan yang umumnya dirasakan tiap bagian saat pabrik make-to-order beralih ke ERP:

  1. Tim manajemen mendapat gambaran operasional yang utuh dari satu sistem, mulai dari status pesanan, ketersediaan stok, sampai progres produksi. Keputusan tentang prioritas pesanan, kapasitas, dan rencana pertumbuhan bisa diambil dengan data yang lebih dekat dengan kondisi sebenarnya.
  2. Tim produksi menerima instruksi kerja digital yang jelas, sehingga tidak perlu lagi mencari lembar yang hilang atau bertanya ulang soal spesifikasi. Jadwal dan urutan pengerjaan lebih mudah dipantau, terutama untuk pesanan dengan konfigurasi kompleks.
  3. Bagi tim gudang, pencatatan keluar masuk bahan langsung tercermin di sistem, sehingga data stok lebih dekat dengan kondisi fisik di rak. Tim gudang bisa memastikan ketersediaan bahan sebelum produksi dimulai, bukan setelah pekerjaan tertahan.
  4. Untuk tim sales, status pesanan bisa dicek langsung tanpa harus bertanya ke produksi atau gudang. Penawaran untuk pesanan khusus juga lebih mudah disusun karena spesifikasi dan ketersediaan bahan bisa dilihat dalam satu alur.
  5. Bagi tim keuangan, data dari penawaran, produksi, sampai penagihan berada dalam satu platform, sehingga proses penagihan dan pencocokan data tidak lagi bergantung pada penyatuan manual dari beberapa file. Pencatatan transaksi pun lebih konsisten dengan apa yang terjadi di lapangan.
  6. Untuk IT, beban pengelolaan beberapa aplikasi yang berjalan sendiri-sendiri berkurang karena sebagian besar proses berada di satu platform. Fokus IT bergeser ke hal yang lebih strategis, seperti pengaturan akses pengguna, integrasi dengan sistem pendukung, dan keamanan data.

Tentu saja, besar kecilnya dampak di tiap tim akan berbeda dari satu pabrik ke pabrik lain. Hasilnya sangat dipengaruhi oleh kesiapan data, keterlibatan pengguna sejak awal, dan kedisiplinan memakai sistem sehari-hari.

Kesimpulan

Dari kasus yang dialami oleh perusahaan produsen produk logam fabrikasi ini memperlihatkan bahwa hambatan produksi sering kali bukan soal mesin atau tenaga kerja, melainkan soal informasi yang tercecer. Work order tulis tangan yang mudah hilang, stok yang tertinggal dari kondisi sebenarnya, dan sistem yang berjalan sendiri-sendiri membuat pesanan kompleks menunggu lama tanpa ada yang bisa memastikan penyebabnya.

Setelah beralih ke satu platform ERP, perusahaan melaporkan seluruh proses dari penawaran sampai penagihan berada di satu tempat, data stok tersedia real-time, dan alur kerja otomatis membantu memperbaiki perencanaan. Waktu tunggu pesanan kompleks pun dilaporkan menyusut dari lebih dari tiga minggu menjadi sekitar 10 hari.

Bagi pabrik make-to-order di Indonesia, pelajarannya cukup jelas. Mulailah dari mengenali tanda-tanda work order kertas dan sistem terpisah yang sudah menghambat, pastikan work order dan stok berbagi satu data, dan siapkan tim sejak awal. Jika Anda ingin melihat bagaimana kebutuhan ini dijawab dalam praktik, pelajari Acumatica Cloud ERP atau software manufaktur yang kami tawarkan, lalu hubungi kami dan jadwalkan sesi demo bersama tim Think Tank. Sesi ini paling relevan bagi perusahaan manufaktur dengan omset tahunan sekitar Rp 250 miliar dan 50 sampai 200 karyawan.

KONSULTASI GRATIS, TANPA KOMITMEN

Masih Bingung Pilih Sistem ERP yang Tepat?

Tim konsultan kami siap membantu Anda menemukan solusi ERP yang paling sesuai dengan kebutuhan industri Anda.

✓ 15+ Tahun Pengalaman✓ 100+ Proyek Sukses✓ Konsultan Lintas Industri
Konsultasi via WhatsAppCoba Demo Gratis

Tanpa komitmen, tanpa biaya tersembunyi. Tim kami merespons dalam 1x24 jam kerja.

FAQ seputar ERP untuk pabrik fabrikasi logam

Apa kendala utama pabrik fabrikasi logam yang masih memakai work order kertas?

Work order kertas mudah hilang, terselip, atau sulit dibaca, terutama saat spesifikasi pesanan berubah di tengah jalan. Kertas yang dibawa fisik ke lantai produksi juga membuat status pesanan sulit dilacak. Bila dikombinasikan dengan catatan stok yang tidak sinkron dan data yang tersebar di beberapa aplikasi, produksi lebih sering tertunda dan waktu tunggu pesanan kompleks memanjang.

Apa manfaat work order digital di ERP untuk lantai produksi?

Work order digital menyimpan instruksi kerja di sistem sehingga bisa diakses oleh semua bagian yang berkepentingan. Risiko lembar yang hilang atau salah baca berkurang, spesifikasi pesanan mengalir dari penawaran ke produksi tanpa ditulis ulang, dan status pengerjaan bisa dipantau tanpa harus bertanya dari meja ke meja.

Bagaimana ERP membantu mengurangi lead time produksi?

Lead time memendek ketika work order tidak lagi tersesat, ketersediaan bahan bisa dipastikan lebih awal lewat data stok real-time, dan setiap tim melihat status pesanan yang sama. Dalam studi kasus yang dibahas, perusahaan melaporkan waktu tunggu pesanan kompleks menyusut dari lebih dari tiga minggu menjadi sekitar 10 hari. Hasil di setiap pabrik berbeda, bergantung pada kompleksitas produk, kesiapan data, dan kedisiplinan memakai sistem.

Apa itu product configurator dan mengapa penting untuk pabrik make-to-order?

Product configurator memungkinkan tim penjualan memilih opsi produk sesuai permintaan pelanggan, lalu sistem menerjemahkannya menjadi daftar bahan, langkah produksi, dan work order yang konsisten. Pada pabrik make-to-order yang pesanannya beragam, fitur ini membantu mengurangi kesalahan spesifikasi, mempercepat penawaran, dan memudahkan perencanaan kebutuhan bahan.

Apa yang perlu disiapkan perusahaan sebelum implementasi ERP?

Mulailah dengan merapikan data dasar seperti daftar bahan, produk, dan spesifikasi, lalu petakan alur kerja yang berjalan saat ini dari penawaran sampai pengiriman. Tunjuk penanggung jawab dari tiap bagian, libatkan pengguna lantai produksi sejak awal, dan siapkan kebiasaan baru seperti berhenti mencatat paralel di kertas begitu sistem mulai dipakai.

Perusahaan seperti apa yang paling cocok dengan pembahasan ini?

Pembahasan ini paling cocok bagi perusahaan manufaktur dengan omset tahunan sekitar Rp 250 miliar dan 50 sampai 200 karyawan, yang memproduksi sesuai pesanan atau dengan banyak variasi konfigurasi. Biasanya mereka masih memakai work order tulis tangan atau cetak, pencatatan stok tertinggal dari kondisi sebenarnya, dan pesanan sulit dilacak dari produksi sampai pengiriman.

Sebagai content writer staff di Think Tank Solusindo, Cicilia bertugas membuat karya tulis yang berhubungan dengan dunia ERP dan sejumlah produk yang ditawarkan oleh Think Tank, seperti Acumatica, SAP Business One, hingga SAP S/4HANA. Dengan tulisannya, ia sudah membantu memberikan solusi terbaik kepada pemilik bisnis seputar meningkatkan efisiensi manajemen perusahaan, sekaligus memberikan rekomendasi software ERP yang dapat mengotomatiskan pengelolaan bisnis.