Dari ERP Buatan Sendiri ke ERP Cloud

Dari ERP Buatan Sendiri ke ERP Cloud: Cerita Distributor Alat Kesehatan yang Berkembang ke Puluhan Cabang

Banyak distributor memulai dengan sistem yang dibangun sendiri. Pada tahap awal, pilihan ini masuk akal: biayanya terkendali, prosesnya mengikuti cara kerja perusahaan, dan cukup untuk melayani satu atau dua kantor. Masalah baru terasa ketika bisnis tumbuh. Cabang bertambah, pengguna berlipat, dan sistem yang dulu cukup mulai menjadi hambatan.

Tanda-tandanya biasanya muncul bertahap. Sistem melambat atau berhenti di jam sibuk, laporan keuangan baru siap setelah beberapa hari, dan data sensitif bisa dibuka oleh siapa saja. Di titik ini, pertanyaannya bukan lagi apakah perusahaan perlu ERP untuk distributor alat kesehatan atau industri distribusi lainnya, melainkan bagaimana bermigrasi dari software buatan sendiri tanpa mengganggu operasional.

Artikel ini bercerita dari sudut pandang itu. Berdasarkan pengalaman kami mengimplementasikan Acumatica untuk sebuah distributor alat kesehatan di Indonesia, kami merangkum perjalanan klien dari sistem buatan sendiri ke ERP cloud: masalah yang mereka hadapi, pertimbangan dalam memilih sistem, proses implementasi yang dilakukan Think Tank, hingga hasil yang mereka laporkan. Kami berharap cerita ini membantu Anda mengenali apakah perusahaan Anda sedang berada di titik yang sama.

📌 Key Takeaways

  • Sistem buatan sendiri biasanya cukup untuk satu atau dua kantor, tetapi mulai bermasalah ketika cabang dan pengguna bertambah, yang tampak dari sistem sering terhenti dan jam pemakaian cabang yang harus dijadwalkan.
  • Laporan keuangan yang harus dipesan ke pengembang dan memakan waktu beberapa hari membuat keputusan bisnis selalu berbasis data yang terlambat.
  • Proses bisnis inti yang belum tercakup (misalnya hanya ada invoicing tanpa sales order) dan hak akses yang tidak bisa dibatasi adalah tanda fondasi sistem sudah tidak layak, bukan sekadar kurang satu fitur.
  • Klien memilih ERP berdasarkan lima kriteria: berbasis cloud, terjangkau, mudah dipakai, punya dashboard dan akses mobile, serta model lisensi yang ramah pertumbuhan jumlah pengguna.
  • Berdasarkan pengalaman Think Tank mengimplementasikan Acumatica, penyesuaian lokal seperti perhitungan pajak dan persyaratan pengadaan pemerintah menjadi bagian penting dari implementasi.
  • Klien melaporkan sistem berjalan stabil, posisi keuangan terlihat langsung lewat dashboard, dan sales order kini mendahului invoice, meski hasil di tiap perusahaan akan berbeda.
  • Mulailah evaluasi ERP dari masalah yang ingin diselesaikan dan proyeksi pertumbuhan dua sampai tiga tahun ke depan, bukan dari daftar fitur.

Profil Klien, Distributor Alat Kesehatan dengan Puluhan Cabang

Klien dalam cerita ini adalah distributor alat kesehatan di Indonesia dengan jaringan puluhan cabang. Portofolio produknya luas, dari produk habis pakai medis dan antiseptik hingga perlengkapan rumah sakit. Totalnya mencapai ribuan SKU, dan katalog itu terus bertambah karena produk baru ditambahkan setiap tahun. Operasionalnya dijalankan ratusan pengguna yang tersebar di kantor pusat dan cabang.

Di awal perjalanannya, perusahaan ini menjalankan bisnis dengan sistem yang dikembangkan khusus oleh seorang pengembang. Untuk skala kecil, pendekatan itu bekerja dengan baik. Sistemnya sesuai dengan cara kerja internal, dan tim tidak perlu beradaptasi dengan software yang asing. Persoalan baru muncul seiring bisnis berkembang dari beberapa kantor menjadi jaringan cabang yang besar.

Pola seperti ini sangat umum di perusahaan distribusi. Distributor menanggung kompleksitas yang tumbuh lebih cepat dari jumlah kantornya: setiap cabang menambah transaksi, setiap produk baru menambah item yang harus dikelola, dan setiap penambahan tim menambah orang yang bekerja di sistem yang sama pada waktu yang sama. Sistem yang dirancang untuk kebutuhan awal jarang disiapkan untuk beban sebesar itu.

Pertanyaan yang kemudian muncul bukan lagi soal fitur tambahan, melainkan apakah fondasi sistemnya masih layak menopang rencana pertumbuhan perusahaan.

Ketika Sistem Buatan Sendiri Tidak Lagi Mengejar Pertumbuhan

Seiring jaringan cabang bertambah, keterbatasan sistem lama mulai terasa di hampir setiap sisi operasional. Menurut pengalaman klien, masalahnya bukan satu kerusakan besar, melainkan gesekan kecil yang terjadi setiap hari dan menumpuk menjadi biaya besar: waktu staf terbuang, keputusan tertunda, dan risiko yang tidak terlihat.

Berikut enam masalah utama yang mereka hadapi sebelum bermigrasi.

  1. Tidak sanggup melayani banyak pengguna bersamaan
    Saat jumlah pengguna naik, sistem melambat dan sering berhenti bekerja. Beban yang dulu wajar kini terlalu berat untuk arsitektur aslinya.
  2. Server harus di-restart secara berkala
    Tim IT terpaksa menjaga sistem tetap hidup dengan restart rutin, dan setiap restart berarti pekerjaan di semua cabang terhenti sementara.
  3. Jam pemakaian cabang harus dijadwalkan
    Karena downtime tidak bisa dihindari, manajemen membuat pembagian waktu agar tiap cabang bergantian memakai sistem. Operasional cabang akhirnya menyesuaikan diri dengan keterbatasan software, bukan sebaliknya.
  4. Laporan keuangan harus dipesan ke pengembang
    Untuk mendapatkan gambaran posisi keuangan, perusahaan harus meminta laporan ke pengembang, menunggu beberapa hari, dan menanggung biayanya. Tanpa dashboard, keputusan bisnis selalu berbasis data yang sudah terlambat.
  5. Belum ada proses sales order
    Sistem hanya mengenal invoicing. Setiap perubahan pesanan setelah invoice terbit menjadi pekerjaan tambahan yang merepotkan tim sales dan keuangan.
  6. Belum ada pembatasan hak akses
    Informasi keuangan yang sensitif bisa dilihat oleh siapa saja yang memakai sistem. Ini risiko kontrol internal yang semakin besar seiring bertambahnya jumlah pengguna.

Jika kita lihat bersama, keenamnya memperlihatkan pola yang sama: sistem yang dirancang untuk perusahaan kecil dipaksa menopang organisasi yang jauh lebih besar. Perbaikan parsial biasanya hanya menunda masalah, karena akar persoalannya ada pada fondasi, bukan pada satu fitur yang kurang.

Jika kondisi ini terdengar akrab di perusahaan Anda, tim Think Tank siap membantu Anda memetakan apakah sistem yang berjalan saat ini masih layak untuk rencana pertumbuhan berikutnya.

Kriteria Memilih ERP yang Dicari Klien

Setelah memahami batas sistem lama, langkah berikutnya bukan sekadar mencari software yang lebih besar. Klien menyusun kriteria yang berangkat langsung dari masalah yang mereka alami, lalu menilai pilihan ERP dengan kriteria itu. Pendekatan ini penting, karena evaluasi yang dimulai dari daftar fitur sering berakhir dengan sistem yang tampak lengkap tetapi tidak menjawab persoalan utama.

Ada lima kriteria utama yang klien pegang saat memilih sistem:

  1. Berbasis cloud
    Klien ingin berhenti mengurus infrastruktur sendiri. Dengan sistem lama, tim harus menjaga server tetap hidup. ERP cloud untuk perusahaan distribusi memindahkan beban itu, sehingga fokus manajemen bergeser dari menjaga sistem ke menjalankan bisnis.
  2. Terjangkau
    Perusahaan punya rencana pertumbuhan yang agresif. Biaya sistem harus tetap masuk akal saat cabang dan tim bertambah, bukan hanya pada hari pertama implementasi.
  3. Mudah dipakai
    Dengan ratusan pengguna di banyak cabang, sistem yang rumit akan memperlambat adopsi. Semakin sedikit waktu yang dihabiskan staf untuk memahami sistem, semakin cepat manfaatnya terasa.
  4. Dashboard dan akses mobile
    Pengambil keputusan membutuhkan gambaran posisi bisnis tanpa menunggu laporan manual. Akses dari perangkat bergerak juga penting bagi pemimpin yang sering bepergian antarcabang.
  5. Model lisensi yang ramah pertumbuhan
    Jumlah pengguna diperkirakan terus naik. Klien menilai bagaimana biaya lisensi berubah ketika pengguna bertambah, karena itu menentukan apakah ekspansi tetap ekonomis.

Kriteria terakhir sering terlewat dalam proses evaluasi. Banyak perusahaan menghitung biaya berdasarkan jumlah pengguna hari ini, padahal yang menentukan adalah proyeksi dua sampai tiga tahun ke depan. Karena model lisensi tiap produk bisa berbeda dan berubah dari waktu ke waktu, kami menyarankan Anda selalu meminta penjelasan skema lisensi terbaru langsung kepada penyedia sebelum mengambil keputusan.

Dari lima kriteria ini, klien kemudian memilih Acumatica dan menunjuk Think Tank sebagai mitra implementasi. Kriteria itu juga yang kami bahas bersama sejak awal, karena implementasi yang baik dimulai dari kebutuhan yang jelas.

Proses Implementasi Acumatica oleh Think Tank

Bagi perusahaan distribusi dengan banyak cabang, implementasi ERP bukan sekadar memasang software baru. Tantangan sebenarnya adalah membuat sistem mengikuti cara kerja bisnis dan regulasi yang berlaku, bukan memaksa perusahaan mengubah seluruh proses demi sistem. Dalam proyek ini, Think Tank menjadi mitra implementasi Acumatica dan memusatkan penyesuaian pada dua area yang paling menentukan bagi klien.

Lokalisasi Perhitungan Pajak

Setiap perusahaan yang beroperasi di Indonesia perlu memastikan perhitungan pajak di sistem sesuai ketentuan setempat. Think Tank menambahkan penyesuaian perhitungan pajak yang disesuaikan dengan kebutuhan lokal agar transaksi dan laporan keuangan klien berjalan sesuai aturan yang berlaku.

Penyesuaian untuk Persyaratan Pengadaan Pemerintah

Sebagai distributor alat kesehatan, klien melayani pengadaan yang diatur oleh ketentuan pemerintah. Sistem karena itu disesuaikan agar proses transaksinya selaras dengan persyaratan pengadaan tersebut. Penyesuaian ini dikerjakan di dalam Acumatica tanpa mengharuskan klien meninggalkan cara kerja yang sudah mereka jalankan.

Kedua penyesuaian ini menunjukkan alasan klien menilai fleksibilitas sistem sebagai faktor penting. ERP yang baik harus mampu menampung kekhasan bisnis dan regulasi lokal tanpa membuat implementasi menjadi proyek yang berlarut-larut.

Hasil yang Dilaporkan Klien

Setelah sistem baru berjalan, klien menyampaikan sejumlah perubahan yang mereka rasakan dalam operasional sehari-hari. Seluruh poin di bawah ini adalah hasil yang dilaporkan klien, dan setiap perusahaan akan mengalami hasil yang berbeda tergantung kondisi serta kesiapan masing-masing. Bagan berikut merangkum alurnya, dari masalah di sistem lama, solusi yang dipakai, hingga hasil yang mereka laporkan.

Perubahan yang paling pertama mereka rasakan ada di sisi infrastruktur. Klien melaporkan sistem berjalan stabil setelah migrasi ke ERP cloud. Manajemen tidak lagi harus mengkhawatirkan kondisi sistem, sehingga perhatian dan waktu bisa dialihkan ke pertumbuhan bisnis dan keputusan yang lebih berbasis data. Kelancaran ini juga terasa di level tim: klien menyebut staf kini menghabiskan lebih sedikit waktu untuk memasukkan data, dan hal itu berdampak pada kenyamanan kerja sehari-hari.

Perubahan berikutnya ada pada pelaporan keuangan. Melalui modul Financials, pimpinan kini dapat melihat posisi keuangan perusahaan langsung lewat dashboard, lalu menelusuri hingga ke tingkat detail ketika dibutuhkan. Klien tidak lagi harus memesan laporan ke pengembang dan menunggu beberapa hari, sehingga proses pelaporan lebih cepat dan tidak lagi menambah biaya di luar sistem. Bagi pimpinan yang sering bepergian antarcabang, akses dari perangkat bergerak membuat informasi penting tetap bisa dipantau tanpa harus berada di kantor.

Di sisi penjualan, alur kerja ikut berubah. Dengan Order Management, tim sales kini membuat sales order terlebih dahulu sebelum invoice diterbitkan. Menurut klien, alur ini meningkatkan layanan kepada pelanggan, karena perubahan pesanan dapat ditangani sebelum masuk ke tahap penagihan. Sebelumnya, ketika sistem hanya mengenal invoicing, setiap perubahan harus dikerjakan langsung pada invoice yang sudah terbit. Pada saat yang sama, klien menilai visibilitas atas ribuan SKU menjadi lebih baik lewat Inventory Control, termasuk ketika produk baru ditambahkan ke katalog.

Jika dibandingkan dengan kondisi awal, sebagian besar perbaikan ini adalah jawaban langsung atas pain point yang dialami klien: sistem yang sering terhenti kini berjalan stabil, laporan yang lambat kini tersedia lewat dashboard, dan alur yang hanya mengenal invoicing kini punya sales order. Karena itu kami menyarankan evaluasi ERP selalu dimulai dari masalah yang ingin diselesaikan, bukan dari daftar fitur.

Dampaknya ke Tiap Tim

Perubahan sistem hampir selalu terasa berbeda di setiap meja kerja. Dalam cerita klien ini, dampaknya paling jelas terlihat di empat tim: manajemen, keuangan, sales, dan IT.

Di level manajemen, perubahan terbesar ada pada cara mereka mendapatkan gambaran bisnis. Dulu, memahami kondisi perusahaan berarti menunggu laporan yang disusun di luar sistem. Kini pimpinan bisa membuka dashboard, melihat posisi keuangan, lalu menelusuri detailnya saat ada yang perlu dipertanyakan. Klien juga menyebut akses dari perangkat bergerak membantu pimpinan yang sering berpindah antarcabang, sehingga keputusan tidak lagi harus menunggu sampai seseorang kembali ke kantor. Dengan perusahaan yang punya rencana ekspansi, kecepatan membaca kondisi ini menjadi bagian dari kemampuan bertumbuh itu sendiri.

Tim keuangan merasakan perubahan yang berkaitan erat dengan itu. Sebelumnya, laporan keuangan harus dipesan ke pengembang dan baru tersedia beberapa hari kemudian. Setelah migrasi, laporan bisa diakses langsung dari sistem tanpa perantara, sehingga tim tidak lagi menunggu pihak luar dan perusahaan tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk setiap permintaan laporan. Waktu yang tadinya habis untuk menunggu bisa dipakai untuk menganalisis angka-angkanya.

Bagi tim sales, perubahannya terletak pada alur kerja. Karena kini ada sales order sebelum invoice, pesanan pelanggan bisa dicatat dan disesuaikan lebih dulu sebelum masuk ke penagihan. Klien menilai hal ini membuat layanan kepada pelanggan lebih baik, terutama ketika ada perubahan pesanan, yang sebelumnya menjadi pekerjaan merepotkan karena harus dilakukan langsung pada invoice. Staf juga disebut menghabiskan lebih sedikit waktu untuk input data, yang tentu terasa bagi tim dengan volume transaksi tinggi.

Dampak untuk tim IT mungkin yang paling terasa secara emosional. Di sistem lama, mereka harus menjaga server tetap hidup dengan restart berkala dan ikut mengatur jadwal pemakaian antarcabang. Setelah pindah ke ERP cloud, klien melaporkan sistem berjalan stabil dan beban menjaga infrastruktur tidak lagi menjadi perhatian utama. Tim IT pun bisa bergeser dari pekerjaan pemadam kebakaran ke hal yang lebih strategis, seperti mendukung pengembangan proses bisnis berikutnya.

Dari keempat cerita ini terlihat satu benang merah: ERP yang tepat tidak hanya mengganti software, tetapi mengubah cara tiap tim bekerja dan saling terhubung. Data yang sama kini dipakai bersama, bukan lagi dipecah dalam laporan yang dipesan satu per satu.

Pelajaran untuk Perusahaan Anda

Cerita klien ini tidak berarti setiap perusahaan harus berganti sistem. Namun, ada beberapa pelajaran praktis yang bisa Anda pakai untuk menilai kondisi sistem sendiri dan menyiapkan langkah berikutnya dengan lebih matang.

Tanda-tanda Sistem Lama Sudah Tidak Layak

Sistem yang sudah mencapai batasnya biasanya memberi sinyal jauh sebelum benar-benar gagal. Berikut tanda-tanda yang paling sering muncul, dan beberapa di antaranya persis seperti yang dialami klien:

  1. Performa turun saat pengguna bertambah: Sistem melambat atau berhenti di jam sibuk, dan tim IT harus sering turun tangan untuk menjaganya tetap berjalan.
  2. Operasional harus menyesuaikan diri dengan sistem: Jika cabang perlu membagi jam pemakaian karena sistem tidak kuat melayani bersamaan, artinya software sudah mengatur bisnis, bukan sebaliknya.
  3. Laporan bergantung pada pihak lain: Ketika gambaran keuangan hanya bisa didapat lewat permintaan khusus yang memakan waktu dan biaya, keputusan akan selalu berbasis data yang terlambat.
  4. Proses bisnis inti belum tercakup: Contohnya, perusahaan hanya bisa menerbitkan invoice tanpa alur pesanan penjualan yang jelas.
  5. Hak akses tidak bisa dibatasi: Data keuangan yang sensitif bisa dilihat oleh siapa saja, dan risikonya makin besar seiring bertambahnya pengguna.

Jika dua atau tiga di antaranya sudah Anda rasakan, kemungkinan besar masalahnya ada pada fondasi sistem, bukan pada satu fitur yang kurang.

Pertanyaan yang Perlu Diajukan Sebelum Memilih ERP

Memilih ERP akan jauh lebih terarah jika Anda punya daftar pertanyaan yang jelas sebelum berbicara dengan penyedia mana pun. Pertanyaan berikut bisa menjadi titik awal untuk perusahaan distribusi dengan banyak cabang:

  1. Apakah sistem sanggup menopang rencana pertumbuhan dua sampai tiga tahun ke depan, bukan hanya kebutuhan hari ini?
  2. Bagaimana biaya berubah ketika jumlah pengguna dan cabang bertambah? Mintalah penjelasan skema lisensi terbaru langsung dari penyedia, karena model lisensi dapat berubah.
  3. Seberapa mudah sistem disesuaikan dengan proses dan regulasi lokal, seperti perpajakan dan persyaratan pengadaan tertentu?
  4. Siapa yang akan mengelola infrastruktur, dan seberapa besar beban itu tetap berada di tim internal Anda?
  5. Seberapa mudah sistem dipakai oleh tim di lapangan, dan apakah pimpinan bisa mengakses informasi penting dari mana saja?
  6. Siapa mitra implementasinya, dan apakah mereka memahami kebutuhan bisnis distribusi serta kondisi lokal?

Yang Perlu Disiapkan di Sisi Perusahaan

Keberhasilan implementasi tidak hanya ditentukan oleh sistem dan mitranya. Kesiapan internal sama pentingnya, dan ada beberapa hal yang sebaiknya Anda siapkan sejak awal.

Mulailah dengan merumuskan masalah yang ingin diselesaikan secara spesifik, misalnya laporan yang lambat atau kontrol akses yang lemah, supaya evaluasi tidak berhenti pada daftar fitur. Setelah itu, libatkan perwakilan dari tiap tim, yaitu manajemen, keuangan, sales, dan IT, sejak tahap pemilihan, karena merekalah yang akan memakai sistem setiap hari. Siapkan juga pemilik proyek dari sisi internal yang bisa mengambil keputusan dan menjadi penghubung dengan mitra implementasi.

Terakhir, rapikan data dari sistem lama sebelum migrasi dan sepakati proses bisnis mana yang perlu dipertahankan atau diperbaiki. Dengan persiapan seperti ini, implementasi punya peluang lebih baik untuk berjalan lancar. Hasil di tiap perusahaan tetap akan berbeda, tergantung kondisi dan kesiapan masing-masing.

Diskusikan Kebutuhan ERP Distribusi Anda Bersama Think Tank Solusindo

Cerita distributor alat kesehatan ini menunjukkan pola yang sering terjadi di perusahaan distribusi yang tumbuh. Sistem buatan sendiri yang dulu cukup untuk beberapa kantor perlahan menjadi hambatan, dan titik baliknya bukan satu kegagalan besar, melainkan kesadaran bahwa fondasi sistem tidak lagi sejalan dengan rencana pertumbuhan perusahaan. Sistem yang sering terhenti, laporan yang harus dipesan ke pengembang, alur penjualan yang hanya mengenal invoicing, dan akses data yang tidak bisa dibatasi adalah sinyal yang layak ditanggapi lebih awal.

Berdasarkan pengalaman kami mengimplementasikan Acumatica untuk sebuah distributor alat kesehatan di Indonesia, proses pemilihan yang dimulai dari masalah yang ingin diselesaikan membuat keputusan lebih terarah dibanding sekadar membandingkan fitur. Penyesuaian lokal, seperti perhitungan pajak dan persyaratan pengadaan pemerintah, juga menjadi bagian penting yang perlu dibahas sejak awal bersama mitra implementasi. Klien melaporkan sistem berjalan stabil, posisi keuangan bisa dilihat langsung lewat dashboard, dan sales order kini mendahului invoice. Meski begitu, hasil di setiap perusahaan akan berbeda tergantung kondisi bisnis, proses, dan kesiapan internalnya.

Jika Anda mengenali sebagian dari tantangan ini di perusahaan Anda, langkah yang paling masuk akal adalah memulai dari percakapan yang membahas kondisi Anda secara spesifik. Anda bisa mempelajari lebih lanjut tentang Acumatica cloud ERP sebelum berdiskusi, atau langsung hubungi tim Think Tank untuk membahas kebutuhan ERP perusahaan distribusi Anda.

KONSULTASI GRATIS, TANPA KOMITMEN

Masih Bingung Pilih Sistem ERP yang Tepat?

Tim konsultan kami siap membantu Anda menemukan solusi ERP yang paling sesuai dengan kebutuhan industri Anda.

✓ 15+ Tahun Pengalaman✓ 100+ Proyek Sukses✓ Konsultan Lintas Industri
Konsultasi via WhatsAppCoba Demo Gratis

Tanpa komitmen, tanpa biaya tersembunyi. Tim kami merespons dalam 1x24 jam kerja.

FAQ seputar ERP untuk Distributor Alat Kesehatan

Kapan distributor perlu beralih dari sistem buatan sendiri ke ERP?

Biasanya ketika sistem mulai membatasi cara kerja perusahaan, misalnya melambat atau sering berhenti saat pengguna bertambah, jam pemakaian cabang harus dijadwalkan, laporan keuangan bergantung pada pengembang, atau akses ke data sensitif tidak bisa dibatasi. Jika beberapa tanda ini sudah Anda rasakan, kemungkinan besar masalahnya ada pada fondasi sistem, bukan pada satu fitur yang kurang.

Apa risiko terus memakai sistem buatan sendiri ketika cabang dan pengguna bertambah?

Risiko utamanya ada pada stabilitas, kecepatan pengambilan keputusan, dan kontrol internal. Sistem yang tidak dirancang untuk beban besar cenderung sering terhenti, laporan yang terlambat membuat keputusan berbasis data lama, dan tanpa pembatasan hak akses, informasi keuangan yang sensitif bisa dilihat banyak orang. Ketergantungan pada pengembang juga membuat setiap perubahan memakan waktu dan biaya.

Apa yang perlu dipertimbangkan saat memilih ERP cloud untuk perusahaan distribusi dengan banyak cabang?

Mulailah dari masalah yang ingin diselesaikan, lalu nilai sistem berdasarkan kemudahan penggunaan, dashboard dan akses mobile, kemampuan penyesuaian dengan proses dan regulasi lokal, serta bagaimana biaya berubah ketika jumlah pengguna dan cabang bertambah. Karena skema lisensi dapat berubah, mintalah penjelasan terbaru langsung dari penyedia sebelum memutuskan.

Apakah ERP bisa disesuaikan dengan perpajakan dan persyaratan pengadaan pemerintah di Indonesia?

Umumnya hal ini bisa dibahas dan disesuaikan, selama kebutuhannya dirumuskan sejak awal bersama mitra implementasi. Berdasarkan pengalaman kami mengimplementasikan Acumatica untuk sebuah distributor alat kesehatan di Indonesia, penyesuaian dilakukan pada perhitungan pajak dan proses agar selaras dengan persyaratan pengadaan pemerintah. Cakupan penyesuaian di tiap perusahaan akan berbeda, sehingga perlu dibahas sesuai kondisi Anda.

Apa yang perlu disiapkan perusahaan sebelum bermigrasi dari sistem lama ke ERP?

Rumuskan masalah yang ingin diselesaikan, libatkan perwakilan manajemen, keuangan, sales, dan IT sejak tahap pemilihan, tunjuk pemilik proyek internal yang dapat mengambil keputusan, serta rapikan data dari sistem lama sebelum migrasi. Persiapan ini membantu implementasi berjalan lebih terarah, meski hasil di tiap perusahaan tetap berbeda.

Sebagai content writer staff di Think Tank Solusindo, Cicilia bertugas membuat karya tulis yang berhubungan dengan dunia ERP dan sejumlah produk yang ditawarkan oleh Think Tank, seperti Acumatica, SAP Business One, hingga SAP S/4HANA. Dengan tulisannya, ia sudah membantu memberikan solusi terbaik kepada pemilik bisnis seputar meningkatkan efisiensi manajemen perusahaan, sekaligus memberikan rekomendasi software ERP yang dapat mengotomatiskan pengelolaan bisnis.