Job Order Costing vs Process Costing: Strategi Menentukan Metode Biaya Produksi yang Tepat untuk Manufaktur
Tidak sedikit pemilik bisnis manufaktur merasa penjualannya berjalan baik, pesanan terus masuk, dan produksi terlihat sibuk. Namun ketika ditanya lebih dalam, pertanyaan sederhana sering kali sulit dijawab dengan pasti. Produk atau pesanan mana yang sebenarnya paling menguntungkan, proyek mana yang marginnya tipis, dan di bagian mana biaya produksi mulai membengkak tanpa disadari.
Masalah ini biasanya bukan karena kurangnya penjualan, melainkan karena cara menghitung biaya produksi yang kurang tepat. Banyak bisnis masih menggunakan satu metode costing untuk semua jenis produksi, tanpa mempertimbangkan apakah karakter produksinya memang cocok dengan metode tersebut. Akibatnya, harga jual ditetapkan berdasarkan rata-rata, bukan berdasarkan biaya riil yang terjadi di lapangan.
Di dunia manufaktur, dua metode yang paling sering digunakan adalah process costing dan job order costing. Keduanya sama-sama valid, tetapi digunakan untuk kondisi bisnis yang sangat berbeda. Process costing umum dipakai untuk produksi massal dengan produk yang homogen, sementara job order costing dirancang untuk produksi berdasarkan pesanan dengan tingkat variasi yang tinggi. Ketika metode yang digunakan tidak sesuai dengan karakter produksi, risiko salah hitung biaya dan salah ambil keputusan bisnis menjadi sangat besar.
Artikel ini akan membahas perbedaan job order costing dan process costing dari sudut pandang strategi bisnis, bukan sekadar teori akuntansi. Tujuannya sederhana, membantu Anda sebagai pemilik bisnis manufaktur menentukan metode biaya produksi yang paling tepat, agar keputusan harga, evaluasi profit, dan pengembangan usaha bisa dilakukan dengan lebih akurat.

Karakter Produksi Manufaktur Menentukan Metode Costing
Setiap bisnis manufaktur memiliki karakter produksi yang berbeda, dan perbedaan inilah yang seharusnya menjadi dasar dalam memilih metode costing. Sayangnya, banyak pemilik bisnis langsung mengadopsi metode yang “umum dipakai” tanpa mengevaluasi apakah metode tersebut benar-benar mencerminkan realitas proses produksinya sendiri.
Secara garis besar, karakter produksi manufaktur bisa dilihat dari dua sisi utama. Pertama, bisnis dengan produksi massal dan produk yang relatif seragam, di mana proses produksi berjalan berulang dari waktu ke waktu. Kedua, bisnis dengan produksi berbasis pesanan, di mana setiap order bisa memiliki spesifikasi, material, waktu pengerjaan, dan tingkat kesulitan yang berbeda.
Perbedaan karakter ini berdampak langsung pada cara biaya seharusnya dicatat dan dianalisis. Pada produksi massal, biaya rata-rata per unit masih cukup representatif untuk dijadikan dasar harga jual. Namun pada produksi yang variatif, pendekatan rata-rata justru bisa menutupi biaya sebenarnya dari tiap pesanan. Pesanan yang kompleks bisa terlihat “untung” di atas kertas, padahal sebenarnya menggerus margin.
Bagi business owner, metode costing bukan sekadar alat akuntansi, melainkan alat pengambilan keputusan. Metode yang tepat membantu Anda memahami struktur biaya dengan lebih jujur, menilai profitabilitas secara objektif, dan menghindari keputusan harga yang keliru. Sebaliknya, metode yang tidak sesuai bisa membuat bisnis tampak sehat, padahal margin sesungguhnya rapuh.
Sebelum membahas metode mana yang lebih baik, langkah paling penting adalah memahami karakter produksi bisnis Anda sendiri. Dari sinilah perbedaan antara process costing dan job order costing mulai terlihat jelas dan relevan.
Sekilas Process Costing: Cocok untuk Produksi Massal
Process costing adalah metode perhitungan biaya produksi yang mengakumulasi biaya berdasarkan proses atau departemen, lalu membaginya secara merata ke seluruh unit yang diproduksi. Metode ini dirancang untuk kondisi produksi yang berjalan terus-menerus, dengan alur yang relatif sama dari satu periode ke periode berikutnya.
Dalam praktiknya, process costing sangat cocok digunakan oleh manufaktur dengan karakter volume besar dan produk homogen. Biaya bahan baku, tenaga kerja, dan overhead dikumpulkan per proses, kemudian dihitung rata-rata untuk menentukan biaya per unit. Selama variasi produk rendah, pendekatan ini masih cukup akurat dan efisien dari sisi pencatatan.
Masalah mulai muncul ketika bisnis manufaktur berkembang dan variasi produksi meningkat. Perbedaan spesifikasi produk, tingkat kesulitan pengerjaan, atau kebutuhan material tambahan sering kali tidak tercermin secara jelas dalam biaya rata-rata. Akibatnya, sebagian produk atau pesanan berisiko menyubsidi biaya produk lain, tanpa disadari oleh pemilik bisnis.
Di sinilah banyak business owner merasa laporan keuangan terlihat baik, tetapi realitas di lapangan berkata lain. Produk tertentu terasa “capek dikerjakan”, memakan waktu lebih lama, atau sering mengalami revisi, namun secara laporan tetap terlihat menguntungkan karena biaya dirata-ratakan. Jika kondisi ini dibiarkan, margin bisnis bisa terkikis perlahan.
Jika bisnis Anda memang berfokus pada produksi massal dengan alur yang stabil, process costing tetap relevan dan efektif. Namun ketika variasi mulai meningkat, pemahaman tentang metode ini menjadi penting sebagai pembanding, sebelum beralih ke pendekatan yang lebih detail seperti job order costing.
Apa Itu Job Order Costing dan Mengapa Relevan untuk Manufaktur Variatif?
Job order costing adalah metode perhitungan biaya produksi yang melacak dan mengakumulasi biaya untuk setiap pesanan secara terpisah. Artinya, setiap job, order, atau proyek diperlakukan sebagai satu unit analisis biaya yang berdiri sendiri, bukan digabung dan dirata-ratakan dengan produksi lainnya.
Bagi business owner manufaktur, pendekatan ini jauh lebih relevan ketika bisnis mulai menangani pesanan dengan spesifikasi yang berbeda-beda. Setiap order bisa menggunakan material yang berbeda, membutuhkan waktu pengerjaan yang tidak sama, serta menyerap tenaga kerja dan overhead dengan tingkat intensitas yang berbeda pula. Job order costing memungkinkan semua perbedaan ini tercermin secara lebih jujur dalam perhitungan biaya.
Secara umum, biaya dalam job order costing dikelompokkan ke dalam tiga komponen utama. Pertama adalah bahan baku langsung, yaitu material yang secara jelas digunakan untuk satu pesanan tertentu. Kedua adalah tenaga kerja langsung, yaitu waktu kerja yang benar-benar dihabiskan untuk mengerjakan pesanan tersebut. Ketiga adalah overhead produksi, seperti listrik, penyusutan mesin, atau biaya pendukung lain yang dialokasikan secara proporsional ke setiap job.
Pendekatan ini membuat pemilik bisnis bisa melihat biaya produksi secara lebih detail per pesanan. Pesanan yang kompleks, memakan waktu lama, atau sering mengalami perubahan spesifikasi tidak lagi “tersembunyi” di balik angka rata-rata. Dengan visibilitas ini, keputusan harga jual, negosiasi dengan pelanggan, hingga evaluasi efisiensi produksi bisa dilakukan dengan lebih objektif.
Job order costing sangat umum digunakan pada manufaktur dengan tingkat variasi tinggi, seperti produksi mesin khusus, komponen custom, furniture berdasarkan pesanan, percetakan, hingga pekerjaan berbasis proyek. Pada konteks ini, akurasi biaya per job jauh lebih penting dibanding sekadar kemudahan pencatatan.
Job order costing membantu bisnis memahami profitabilitas secara lebih presisi, terutama ketika setiap pesanan membawa tantangan dan struktur biaya yang berbeda. Perbedaan pendekatan inilah yang nantinya menjadi pembeda utama ketika dibandingkan langsung dengan process costing.
Perbandingan Job Order Costing vs Process Costing
Bagi pemilik bisnis manufaktur, perbedaan antara job order costing dan process costing bukan terletak pada rumus akuntansi, melainkan pada cara melihat dan mengendalikan profit. Keduanya memberikan hasil yang sangat berbeda ketika diterapkan pada konteks produksi yang tidak sesuai.
Supaya lebih mudah dipahami, berikut perbandingan keduanya dari perspektif bisnis:
| Aspek Perbandingan | Job Order Costing | Process Costing |
|---|---|---|
| Dasar pencatatan biaya | Per pesanan atau proyek | Per proses atau departemen |
| Tingkat detail biaya | Sangat detail per job | Rata-rata per unit |
| Cocok untuk | Produksi custom atau variatif | Produksi massal dan homogen |
| Visibilitas profit | Jelas per pesanan | Hanya terlihat secara agregat |
| Risiko salah harga jual | Lebih rendah | Lebih tinggi saat variasi meningkat |
| Kontrol biaya | Lebih kuat | Terbatas pada level proses |
| Kompleksitas pencatatan | Lebih kompleks | Lebih sederhana |
Dari tabel ini terlihat bahwa process costing unggul dalam kesederhanaan, tetapi mengorbankan detail. Selama produk yang dihasilkan benar-benar seragam, pendekatan ini masih efektif. Namun ketika variasi mulai muncul, biaya rata-rata bisa menjadi sumber distorsi yang berbahaya bagi pengambilan keputusan.
Sebaliknya, job order costing memberikan visibilitas biaya yang jauh lebih tajam, tetapi menuntut disiplin pencatatan yang lebih tinggi. Setiap penyimpangan biaya akan terlihat dengan jelas, termasuk pesanan yang tampak menguntungkan di permukaan, tetapi sebenarnya menyerap sumber daya lebih besar dari yang seharusnya.
Bagi business owner, perbandingan ini membantu menjawab pertanyaan strategis berikut:
- Apakah bisnis saya perlu mengetahui profit per pesanan secara detail?
- Apakah variasi produksi sudah cukup signifikan untuk meninggalkan biaya rata-rata?
- Apakah risiko salah harga lebih berbahaya dibanding kompleksitas pencatatan?
Strategi Menentukan Metode Costing yang Tepat untuk Bisnis Anda
Memilih metode costing yang tepat tidak bisa hanya didasarkan pada kebiasaan industri atau rekomendasi umum. Bagi business owner manufaktur, keputusan ini seharusnya didasarkan pada bagaimana bisnis benar-benar beroperasi di lapangan, bukan bagaimana idealnya menurut buku teks.
- Lihat tingkat variasi produk, bukan sekadar volume produksi
Banyak bisnis memproduksi dalam jumlah besar, tetapi dengan spesifikasi yang berbeda-beda untuk tiap pelanggan. Dalam kondisi seperti ini, biaya rata-rata dari process costing sering kali tidak mencerminkan biaya riil per pesanan, sehingga job order costing menjadi lebih relevan. - Mengevaluasi kompleksitas proses produksi
Jika setiap pesanan membutuhkan pengaturan mesin yang berbeda, waktu pengerjaan yang bervariasi, atau tingkat keterlibatan tenaga kerja yang tidak sama, maka visibilitas biaya per job menjadi sangat penting. Job order costing membantu mengungkap pesanan mana yang menyerap sumber daya paling besar dan berpotensi menekan margin. - Perhatikan kebutuhan kontrol profit dan harga jual
Bagi bisnis yang sering bernegosiasi harga dengan pelanggan atau menerima pesanan khusus, memahami struktur biaya per pesanan adalah keunggulan strategis. Dengan job order costing, pemilik bisnis dapat menentukan harga dengan lebih percaya diri karena didasarkan pada biaya aktual, bukan estimasi kasar. - Pertimbangkan risiko kesalahan pengambilan keputusan
Menggunakan process costing pada bisnis dengan variasi tinggi bisa membuat pesanan yang tidak efisien terlihat menguntungkan. Dalam jangka pendek mungkin tidak terasa, tetapi dalam jangka panjang, margin bisnis bisa terkikis tanpa disadari.
Metode costing yang tepat adalah metode yang memberi Anda visibilitas terbaik terhadap realitas biaya bisnis Anda. Semakin tinggi variasi dan kompleksitas produksi, semakin besar nilai strategis dari job order costing dalam mendukung keputusan bisnis yang lebih akurat.
Apakah Manufaktur Bisa Menggabungkan Job Order dan Process Costing?
Dalam praktiknya, tidak semua bisnis manufaktur berada di satu sisi ekstrem, sepenuhnya produksi massal atau sepenuhnya berbasis pesanan. Banyak manufaktur justru berada di area abu-abu, di mana sebagian prosesnya bersifat standar, sementara sebagian lainnya sangat bergantung pada spesifikasi pelanggan. Dalam kondisi seperti ini, menggabungkan job order costing dan process costing bukan hal yang mustahil, bahkan sering kali menjadi pilihan paling rasional.
Contohnya, sebuah pabrik bisa saja memproduksi komponen dasar secara massal menggunakan process costing, lalu melakukan tahap perakitan, modifikasi, atau finishing berdasarkan pesanan pelanggan dengan pendekatan job order costing. Dengan cara ini, biaya produksi massal tetap efisien, sementara biaya tambahan akibat kustomisasi tetap tercatat secara akurat per pesanan.
Pendekatan kombinasi ini membantu business owner mendapatkan dua hal sekaligus. Di satu sisi, bisnis tetap menikmati efisiensi pencatatan dari process costing. Di sisi lain, risiko distorsi biaya akibat variasi pesanan bisa ditekan karena bagian yang bersifat custom dihitung secara terpisah menggunakan job order costing.
Tantangannya muncul ketika pencatatan masih dilakukan secara manual atau terpisah-pisah. Mengelola dua metode costing sekaligus membutuhkan disiplin data yang tinggi, mulai dari pencatatan material, jam kerja, hingga alokasi overhead. Tanpa sistem yang terintegrasi, kompleksitas ini justru bisa menimbulkan kebingungan baru dan mengurangi manfaat yang ingin dicapai.
Kombinasi job order costing dan process costing bisa menjadi solusi strategis bagi manufaktur yang berkembang dan semakin kompleks. Namun, pendekatan ini menuntut sistem dan proses yang mampu mendukung visibilitas biaya secara konsisten, agar informasi yang dihasilkan benar-benar bisa dijadikan dasar pengambilan keputusan.
Kesimpulan
Pada akhirnya, job order costing dan process costing bukan sekadar pilihan metode akuntansi, melainkan fondasi bagi pengambilan keputusan bisnis. Metode costing yang tepat membantu pemilik bisnis manufaktur memahami biaya secara lebih jujur, menentukan harga dengan lebih percaya diri, dan menghindari margin yang bocor tanpa disadari.
Ketika variasi produksi meningkat, pendekatan biaya rata-rata sering kali tidak lagi cukup. Job order costing memberikan visibilitas yang lebih detail per pesanan, sehingga bisnis dapat mengevaluasi profitabilitas dengan lebih akurat dan mengambil keputusan berbasis data, bukan asumsi. Sebaliknya, pada produksi massal yang stabil, process costing tetap menjadi solusi yang efisien dan relevan.
Dalam praktiknya, banyak manufaktur modern berada di tengah-tengah, mengombinasikan kedua pendekatan tersebut sesuai karakter proses produksinya. Tantangan utama bukan lagi memilih metodenya, melainkan bagaimana menerapkannya secara konsisten dan terintegrasi, terutama ketika volume transaksi, variasi pesanan, dan kebutuhan laporan semakin kompleks.
Di titik inilah digitalisasi dan sistem ERP berperan penting. Dengan sistem yang tepat, pencatatan biaya per pesanan, alokasi overhead, hingga analisis profit bisa dilakukan secara lebih akurat dan real-time, tanpa membebani tim dengan proses manual yang rawan kesalahan.
Saatnya Mengelola Costing Manufaktur Secara Lebih Strategis
Jika Anda ingin menerapkan job order costing, process costing, atau kombinasi keduanya secara lebih terstruktur melalui software ERP, tim konsultan Think Tank Solusindo siap membantu Anda mengevaluasi kebutuhan bisnis dan memilih solusi yang paling sesuai.
📩 Hubungi Kami Sekarang!
- 🖱️ Coba Demo Gratis: Klik di sini
- 📨 Email: info@8thinktank.com
- 📱 WhatsApp: +62 857-1434-5189

FAQ Seputar Job Order Costing dan Process Costing
Apa itu job order costing dan kapan sebaiknya digunakan?
Job order costing adalah metode perhitungan biaya produksi yang melacak biaya berdasarkan setiap pesanan atau proyek secara terpisah. Metode ini paling tepat digunakan oleh bisnis manufaktur dengan produk custom, variasi tinggi, atau pesanan dengan spesifikasi yang berbeda-beda.
Apa perbedaan utama job order costing dan process costing?
Perbedaan utamanya terletak pada cara biaya dikumpulkan. Job order costing mencatat biaya per pesanan, sementara process costing mengakumulasi biaya per proses lalu membaginya secara rata ke seluruh unit produksi. Pemilihan metode sangat bergantung pada karakter produksi bisnis.
Apakah job order costing lebih mahal dan rumit untuk diterapkan?
Secara pencatatan, job order costing memang lebih detail dibanding process costing. Namun, bagi manufaktur dengan variasi produksi tinggi, kompleksitas ini sebanding dengan manfaatnya karena membantu menghindari kesalahan harga dan margin yang tidak akurat.
Apakah process costing masih relevan untuk manufaktur modern?
Process costing tetap relevan untuk bisnis dengan produksi massal dan produk homogen. Selama variasi rendah dan proses stabil, metode ini masih efisien dan cukup akurat untuk pengambilan keputusan.
Apakah satu bisnis manufaktur bisa menggunakan job order costing dan process costing sekaligus?
Bisa. Banyak manufaktur menggunakan pendekatan kombinasi, misalnya process costing untuk tahap produksi massal dan job order costing untuk tahap custom atau finishing. Pendekatan ini umum diterapkan pada bisnis yang berkembang dan semakin kompleks.
Apa risiko jika salah memilih metode costing?
Risiko utamanya adalah salah hitung biaya produksi, salah menentukan harga jual, dan margin bisnis yang terlihat aman tetapi sebenarnya rapuh. Dalam jangka panjang, kesalahan ini dapat menghambat pertumbuhan dan profitabilitas bisnis.
Apakah sistem ERP diperlukan untuk menerapkan job order costing?
ERP tidak selalu wajib, tetapi sangat membantu ketika volume transaksi dan variasi pesanan meningkat. Sistem ERP memudahkan pencatatan biaya per pesanan, alokasi overhead, serta analisis profit secara lebih akurat dan konsisten.
